Suaraonline.com — Pernahkan saat sekolah, kamu bertanya-tanya atau malah mengeluh tentang adanya aturan seragam sekolah? Kebanyakan pelajar merasa bosen dengan seragam yang dipakai hingga merasa tidak bebas dalam menggunakan pakaian kesukaan layaknya di Negara Barat.
Sejak dulu, kebijakan ini kerap diperdebatkan, sebagian menilai sudah tidak relevan, sementara yang lain melihatnya sebagai fondasi penting dalam dunia pendidikan. Jika ditelusuri lebih jauh, aturan seragam sekolah bukan sekadar soal pakaian, tetapi berkaitan erat dengan pembentukan karakter dan struktur sosial pelajar.
Alasan Masih Menerapkan Aturan Seragam Sekolah
Pertama, untuk mencegah terjadinya kesenjangan sosial di lingkungan sekolah. Dengan seragam yang sama, perbedaan latar belakang ekonomi menjadi tidak terlihat secara kasat mata. Pelajar dari keluarga mampu dan kurang mampu berdiri dalam posisi yang setara, tanpa perlu merasa minder atau lebih unggul karena pakaian.
Sehingga aturan seragam sekolah dianggap sebagai penetral identitas sosial agar pelajar dapat fokus utama tetap pada proses belajar, bukan pada penampilan.
Kedua, melatih disiplin pelajar sejak dini. Kewajiban mengenakan seragam setiap hari mengajarkan anak untuk patuh pada aturan dan terbiasa hidup tertib.
Dari cara berpakaian yang rapi, sesuai ketentuan, pelajar belajar bahwa ada standar yang harus dijaga dalam kehidupan sosial. Disiplin sederhana ini menjadi bekal penting ketika mereka kelak masuk ke dunia kerja dan masyarakat yang juga penuh aturan.
Ketiga, menjaga kebersamaan dan persatuan di lingkungan sekolah. Ketika semua mengenakan pakaian yang sama, muncul rasa kebersamaan yang lebih kuat.
Tidak ada sekat visual yang mencolok, sehingga identitas sebagai pelajar menjadi lebih dominan dibanding identitas pribadi. Inilah alasan mengapa banyak negara di Asia, termasuk Indonesia, masih mempertahankan aturan seragam sekolah sebagai simbol persatuan dan solidaritas.
Jadi, itulah alasan mengapa seragam sekolah bukan sekadar kewajiban administratif. Ia adalah alat pendidikan sosial yang dirancang untuk menanamkan nilai kesetaraan, disiplin, dan kebersamaan sejak usia muda.
Baca Juga: Cara Penulis Novel Memanfaatkan Overthinking
Editor: Annisa Adelina Sumadillah




