Suaraonline.com – Ngaret seolah sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Janjian pukul 09.00 bisa mundur menjadi 09.30 tanpa rasa bersalah.
Bahkan, istilah “jam karet” sering dipakai dengan nada bercanda, seakan keterlambatan adalah hal yang wajar. Padahal, jika terus dimaklumi, kebiasaan ini bisa mencerminkan persoalan sikap yang lebih dalam.
1. Mentalitas Santai Berlebihan
Sikap terlalu santai sering dijadikan alasan utama. Banyak orang merasa keterlambatan bukan masalah besar selama situasi masih terkendali.
Padahal, ngaret bukan hanya soal waktu, tetapi juga soal menghargai orang lain yang sudah datang tepat waktu.
2. Kebiasaan Ngaret yang Terus Dimaklumi
Karena terlalu sering terjadi, masyarakat pun ikut memaklumi. Ketika hampir semua orang terbiasa terlambat, standar ketepatan waktu menjadi longgar. Akhirnya, ngaret dianggap budaya, bukan lagi kesalahan yang perlu diperbaiki.
Orang yang awalnya selalu tepat waktu jadi pihak yang paling rugi, dan sangat beresiko untuk tertular kebiasaan buruk ini.
3. Kurangnya Tanggung Jawab Sosial
Datang tepat waktu sejatinya adalah bentuk tanggung jawab sosial. Saat seseorang terlambat, ia bukan hanya mengulur jadwalnya sendiri, tetapi juga mengganggu waktu orang lain. Namun, kesadaran ini kerap diabaikan.
4. Tidak Memiliki Disiplin Waktu
Manajemen waktu yang buruk juga menjadi faktor penting, kenapa masyarakat Indonesia seringkali ngaret.
Tidak memperkirakan jarak, kondisi jalan, atau waktu persiapan membuat seseorang mudah terjebak dalam kebiasaan ngaret yang berulang.
5. Kebiasaan yang Sulit Diubah
Karena sudah mengakar sejak lama, kebiasaan ngaret menjadi sulit dihilangkan. Lingkungan yang permisif membuat perubahan terasa tidak mendesak.
Jadi, itulah beberapa alasan mengapa masyarakat Indonesia suka ngaret. Dengan memahami berbagai faktor tersebut, kita bisa mulai melakukan introspeksi diri dan menyadari bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri.
Jangan sampai kita justru menjadi bagian dari kebiasaan yang selama ini kita kritik. Disiplin waktu mungkin terlihat sederhana, tetapi dari hal kecil itulah karakter dan tanggung jawab seseorang benar-benar terlihat.
Baca Juga: 5 Dosa Masyarakat Indonesia yang Sulit Dimaklumi
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




