Suara Online – Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah, penuh toleransi, dan menjunjung tinggi nilai gotong royong. Namun dibalik citra itu, ada kebiasaan-kebiasaan sosial yang terus berulang dan seolah dinormalisasi.
Padahal, jika direnungkan lebih dalam, beberapa di antaranya bukan lagi sekadar kekeliruan kecil, melainkan “dosa sosial” yang dampaknya merugikan banyak orang.
Berikut lima kebiasaan masyarakat yang sulit dimaklumi karena terus terjadi meski dampaknya sudah jelas.
1. Buang Sampah Sembarangan
Masalah klasik yang tak kunjung selesai. Sungai kotor, selokan tersumbat, banjir datang tiap musim hujan, tetapi kebiasaan membuang sampah sembarangan masih saja terjadi.
Ironisnya, banyak orang mengeluh soal banjir dan lingkungan kumuh, tetapi tidak merasa bersalah saat membuang sampah dari kendaraan atau melemparkannya ke sungai.
Padahal, kerusakan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.
Kesadaran menjaga kebersihan seharusnya menjadi budaya, bukan sekadar slogan.
2. Mentalitas “Tidak Apa-Apa” terhadap Pelanggaran Kecil
Melanggar lampu merah karena jalan sepi, menyerobot antrean karena merasa buru-buru, parkir sembarangan dengan alasan “sebentar saja”. Kebiasaan ini terlihat sepele, tetapi mencerminkan rendahnya disiplin sosial.
Ketika pelanggaran kecil dianggap biasa, maka pelanggaran besar pun perlahan dinormalisasi.
Budaya tertib tidak akan pernah tumbuh jika masyarakat sendiri enggan memulainya dari hal sederhana.
3. Gemar Menghakimi dan Mudah Menghujat
Di era media sosial, kolom komentar sering berubah menjadi ruang pengadilan tanpa hakim.
Seseorang yang tertimpa musibah justru dihujat. Korban sering kali disalahkan. Empati kalah oleh sensasi.
Budaya perundungan daring semakin mengkhawatirkan, terutama bagi anak muda. Kata-kata yang ditulis tanpa pikir panjang bisa meninggalkan luka panjang bagi orang lain.
Kebebasan berpendapat bukan berarti bebas menyakiti.
4. Apatis terhadap Masalah Publik
Banyak orang cepat mengeluh soal harga naik, jalan rusak, atau pelayanan buruk. Namun ketika ada kesempatan untuk terlibat aktif, seperti musyawarah warga atau pemilihan umum, partisipasi justru rendah.
Sikap apatis membuat perubahan sulit terjadi. Demokrasi membutuhkan warga yang peduli, bukan hanya penonton yang sibuk mengkritik tanpa mau berkontribusi.
5. Normalisasi Korupsi dalam Skala Kecil
Korupsi tidak selalu dalam bentuk miliaran rupiah. Memberi uang agar urusan dipercepat, memanfaatkan jabatan kecil untuk keuntungan pribadi, atau “titip absen” demi keuntungan pribadi adalah bentuk-bentuk ketidakjujuran yang sering dianggap lumrah.
Ketika praktik seperti ini dibiarkan, budaya integritas akan semakin melemah. Tidak adil jika kita marah pada korupsi besar, tetapi membenarkan kecurangan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Menyebutnya sebagai “dosa masyarakat” bukan untuk menyalahkan satu pihak, melainkan sebagai ajakan untuk bercermin.
Perubahan sosial tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh pemimpinnya, tetapi oleh warganya. Jika lima kebiasaan ini terus dinormalisasi, maka sulit berharap Indonesia bisa melangkah lebih maju.
Pertanyaannya sekarang sederhana: kita mau terus menyalahkan keadaan, atau mulai memperbaiki diri sendiri?
Baca Juga : Mengapa Kematian Dianggap Jalan Keluar Paling Mudah bagi Remaja




