Suara Online
  • Beranda
  • Bisnis
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Teknologi
Subscribe
Suara OnlineSuara Online
Aa
Search
  • Pages
    • Home
    • Blog Index
    • Contact Us
    • Search Page
    • 404 Page
  • Categories
  • Personalized
    • My Saves
    • My Feed
    • My Interests
    • History
Follow US
5 Dosa Masyarakat Indonesia yang Sulit Dimaklumi

Beranda – Dosa Masyarakat Indonesia – 5 Dosa Masyarakat Indonesia yang Sulit Dimaklumi

ArtikelInformasi

5 Dosa Masyarakat Indonesia yang Sulit Dimaklumi

Salsabila Humairo Azzahro
Salsabila Humairo Azzahro
Share
5 Dosa Masyarakat Indonesia yang Sulit Dimaklumi (Ilustrasi AI)
SHARE

Suara Online – Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah, penuh toleransi, dan menjunjung tinggi nilai gotong royong. Namun dibalik citra itu, ada kebiasaan-kebiasaan sosial yang terus berulang dan seolah dinormalisasi. 

Contents
1. Buang Sampah Sembarangan2. Mentalitas “Tidak Apa-Apa” terhadap Pelanggaran Kecil3. Gemar Menghakimi dan Mudah Menghujat4. Apatis terhadap Masalah Publik5. Normalisasi Korupsi dalam Skala Kecil

Padahal, jika direnungkan lebih dalam, beberapa di antaranya bukan lagi sekadar kekeliruan kecil, melainkan “dosa sosial” yang dampaknya merugikan banyak orang.

Berikut lima kebiasaan masyarakat yang sulit dimaklumi karena terus terjadi meski dampaknya sudah jelas.

1. Buang Sampah Sembarangan

Masalah klasik yang tak kunjung selesai. Sungai kotor, selokan tersumbat, banjir datang tiap musim hujan, tetapi kebiasaan membuang sampah sembarangan masih saja terjadi.

Ironisnya, banyak orang mengeluh soal banjir dan lingkungan kumuh, tetapi tidak merasa bersalah saat membuang sampah dari kendaraan atau melemparkannya ke sungai. 

Padahal, kerusakan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.

Kesadaran menjaga kebersihan seharusnya menjadi budaya, bukan sekadar slogan.

2. Mentalitas “Tidak Apa-Apa” terhadap Pelanggaran Kecil

Melanggar lampu merah karena jalan sepi, menyerobot antrean karena merasa buru-buru, parkir sembarangan dengan alasan “sebentar saja”. Kebiasaan ini terlihat sepele, tetapi mencerminkan rendahnya disiplin sosial.

Ketika pelanggaran kecil dianggap biasa, maka pelanggaran besar pun perlahan dinormalisasi. 

Budaya tertib tidak akan pernah tumbuh jika masyarakat sendiri enggan memulainya dari hal sederhana.

3. Gemar Menghakimi dan Mudah Menghujat

Di era media sosial, kolom komentar sering berubah menjadi ruang pengadilan tanpa hakim. 

Seseorang yang tertimpa musibah justru dihujat. Korban sering kali disalahkan. Empati kalah oleh sensasi.

Budaya perundungan daring semakin mengkhawatirkan, terutama bagi anak muda. Kata-kata yang ditulis tanpa pikir panjang bisa meninggalkan luka panjang bagi orang lain.

Kebebasan berpendapat bukan berarti bebas menyakiti.

4. Apatis terhadap Masalah Publik

Banyak orang cepat mengeluh soal harga naik, jalan rusak, atau pelayanan buruk. Namun ketika ada kesempatan untuk terlibat aktif, seperti musyawarah warga atau pemilihan umum, partisipasi justru rendah.

Sikap apatis membuat perubahan sulit terjadi. Demokrasi membutuhkan warga yang peduli, bukan hanya penonton yang sibuk mengkritik tanpa mau berkontribusi.

5. Normalisasi Korupsi dalam Skala Kecil

Korupsi tidak selalu dalam bentuk miliaran rupiah. Memberi uang agar urusan dipercepat, memanfaatkan jabatan kecil untuk keuntungan pribadi, atau “titip absen” demi keuntungan pribadi adalah bentuk-bentuk ketidakjujuran yang sering dianggap lumrah.

Ketika praktik seperti ini dibiarkan, budaya integritas akan semakin melemah. Tidak adil jika kita marah pada korupsi besar, tetapi membenarkan kecurangan kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Menyebutnya sebagai “dosa masyarakat” bukan untuk menyalahkan satu pihak, melainkan sebagai ajakan untuk bercermin. 

Perubahan sosial tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh pemimpinnya, tetapi oleh warganya. Jika lima kebiasaan ini terus dinormalisasi, maka sulit berharap Indonesia bisa melangkah lebih maju.

Pertanyaannya sekarang sederhana: kita mau terus menyalahkan keadaan, atau mulai memperbaiki diri sendiri?

Baca Juga : Mengapa Kematian Dianggap Jalan Keluar Paling Mudah bagi Remaja

TAGGED: Dosa Masyarakat Indonesia, masyarakat indonesia
Share This Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified Blog

Seedbacklink

Rumah Anak Surga

Hotel Karantina Qur’an

Rental Motor Semarang

You Might Also Like

Mengapa Kematian Dianggap Jalan Keluar Paling Mudah bagi Remaja
ArtikelInformasi

Mengapa Kematian Dianggap Jalan Keluar Paling Mudah bagi Remaja

2 Min Read
Tragedi Remaja Bandung: Saat Nyawa Terasa Murah dan Kematian Seolah Mudah Dibeli
ArtikelInformasi

Tragedi Remaja Bandung: Saat Nyawa Terasa Murah dan Kematian Seolah Mudah Dibeli

2 Min Read
Di Negeri Ini, Perempuan Boleh Sekolah Tinggi Asal Tak Terlihat Terlalu Maju
ArtikelBeritaopini

Di Negeri Ini, Perempuan Boleh Sekolah Tinggi Asal Tak Terlihat Terlalu Maju

2 Min Read
Gengsi Orang Tua Zaman Sekarang
ArtikelBeritaopini

Gengsi Orang Tua Zaman Sekarang: Tak Menikah Dicap Gagal, Hamil Duluan Dimaklumi

3 Min Read
Suara Online

Suaraonline.com : The voice of netizen

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Privacy Police
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?