Suara Online, Yogyakarta – Program berbagi makanan gratis di Kampoeng Ramadan Jogokariyan, Kota Yogyakarta kembali menjadi sorotan publik.
Informasi tersebut ramai dibagikan melalui akun TikTok Jajan Di Jogja dan langsung menuai beragam respons dari warganet.
Dalam unggahan yang beredar, Kampoeng Ramadan Jogokariyan disebut menyediakan sekitar 3.800 porsi makanan gratis setiap hari untuk jamaah berbuka puasa selama Ramadan 1447 Hijriah.
Ribuan porsi tersebut dibagikan kepada masyarakat yang datang untuk berbuka di kawasan Masjid Jogokariyan.
Program ini mendapat banyak pujian dari pengguna media sosial. Warganet menilai langkah tersebut sebagai bentuk kepedulian sosial yang konsisten dilakukan setiap tahun selama bulan suci Ramadan.
Tak sedikit pula yang mengapresiasi sistem distribusi makanan yang dinilai tertib dan terorganisir. Beberapa komentar menyebut kegiatan tersebut sebagai contoh nyata gotong royong dan solidaritas masyarakat.
Namun di tengah pujian yang mengalir, muncul juga perbandingan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini menjadi kebijakan pemerintah. Sebagian warganet membandingkan sumber pendanaan serta kualitas menu yang disajikan.
Ada komentar yang menyebut bahwa program di Jogokariyan bersumber dari donasi dan swadaya masyarakat, sementara program MBG berasal dari anggaran negara. Perbandingan tersebut memicu diskusi panjang di kolom komentar.
Meski demikian, banyak pihak mengingatkan agar kedua program tidak dipertentangkan, mengingat keduanya memiliki tujuan berbeda dan menyasar kelompok penerima manfaat yang tidak sama.
Kampoeng Ramadan Jogokariyan sendiri dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan Ramadan yang rutin menyediakan ribuan porsi makanan gratis setiap tahunnya. Tradisi ini telah berjalan selama bertahun-tahun dan menjadi bagian dari budaya berbagi di Yogyakarta.
Hingga kini, unggahan mengenai 3.800 porsi makan gratis tersebut masih ramai dibicarakan dan terus mendapat respons positif dari masyarakat luas.
Baca Juga : Siswa SD Lahap Santap Menu MBG, Warganet Soroti Kesenjangan Menu di Berbagai Daerah




