Suara Online – Ketika kita sering mengorbankan diri demi orang lain, kita mungkin merasa itu adalah bentuk kebaikan.
Kita ingin terlihat membantu, peduli, atau menjadi “orang yang selalu ada.” Namun, ketika dilakukan berulang tanpa batasan, kebiasaan ini justru berpotensi merusak diri sendiri.
Banyak orang tidak menyadari bahwa terlalu sering berkata “iya” dapat membuat hidup terasa penuh tekanan.
Ketika kita sering mengorbankan diri demi orang lain, pelan-pelan kita kehilangan ruang untuk kebutuhan pribadi.
Kita menunda waktu istirahat, menekan emosi sendiri, bahkan mengabaikan hal-hal penting yang seharusnya diprioritaskan.
Lama-kelamaan, tubuh dan pikiran mulai lelah, tetapi kita tetap memaksa demi membuat semua orang puas.
Masalahnya, ketika kita sering mengorbankan diri demi orang lain, tidak semua orang memahami batasan kita. Ada yang menganggap kebaikan kita sebagai kewajiban.
Mereka terbiasa dibantu, terbiasa dilayani, dan tanpa sadar membuat kita merasa bersalah jika suatu hari tidak bisa memenuhi permintaan mereka. Di sinilah masalah mental dan emosional mulai muncul.
Ketika kita selalu ingin menyenangkan semua orang, tekanan batin datang dari dua arah: dari luar karena orang terus meminta, dan dari dalam karena kita takut mengecewakan.
Ini membuat kita hidup dalam kecemasan dan overthinking, merasa harus selalu “cukup baik” untuk orang lain, padahal diri sendiri semakin terabaikan.
Jika kondisi ini dibiarkan, kita menjadi mudah burnout. Kita mulai merasa hidup tidak punya kendali, energi cepat habis, dan kehilangan motivasi untuk hal-hal yang sebenarnya penting.
Mengorbankan diri memang terlihat mulia, tetapi ketika menyakiti diri sendiri, itu bukan lagi kebaikan itu pengabaian terhadap kesehatan mental.
Belajar mengatakan “tidak,” menetapkan batasan, dan mengenali porsi tanggung jawab adalah cara menyelamatkan diri.
Ingat, ketika kita sering mengorbankan diri demi orang lain tanpa menjaga diri sendiri, pada akhirnya kita tidak bisa membantu siapa pun dengan sehat. Kamu juga berhak tenang, berhak istirahat, dan berhak mendahulukan dirimu sendiri.
Baca Juga : Red Flags dalam Pertemanan yang Sering Diabaikan dan Dampaknya untuk Kesehatan Emosional




