Suaraonline.com – Sifat perfeksionisme sering kali dipuji sebagai sikap disiplin dan bertanggung jawab. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa di balik sifat tersebut, tersimpan proses psikologis yang tidak selalu sehat dan bahkan berakar dari pengalaman masa lalu yang menyakitkan.
Bagi sebagian orang, perfeksionisme bukanlah pilihan sadar, melainkan pola bertahan hidup yang terbentuk sejak kecil. Ia tumbuh perlahan, dibungkus tuntutan, kritik, dan rasa takut akan penolakan. Tanpa disadari, pola ini terbawa hingga dewasa dan mempengaruhi cara seseorang menilai diri sendiri.
Fakta Gelap di Balik Terbentuknya Sifat Perfeksionisme
Perfeksionisme kerap berawal dari trauma masa lalu, terutama pada individu yang sejak kecil terbiasa dituntut untuk selalu sempurna. Kesalahan kecil tidak dipandang sebagai proses belajar, melainkan dianggap sebagai kegagalan besar.
Kritik yang diterima pun bukan sekadar evaluasi, melainkan serangan personal yang membuat anak merasa tidak cukup, tidak diterima, bahkan dianggap bodoh.
Dalam kondisi tersebut, anak belajar satu hal penting yaitu melakukan kesalahan berarti kehilangan rasa aman. Sebaliknya, saat ia berhasil melakukan sesuatu yang dianggap sempurna, muncul ketenangan batin, meskipun tanpa pujian atau apresiasi. Ketenangan inilah yang kemudian direkam oleh otak sebagai ruang aman.
Seiring waktu, otak membentuk pola bahwa kesempurnaan adalah satu-satunya jalan untuk merasa aman dan diterima. Dari sinilah perfeksionisme berkembang menjadi standar hidup yang tinggi dan kaku. Bukan karena ingin menjadi yang terbaik, melainkan karena takut kembali merasakan rasa sakit yang sama seperti di masa lalu.
Perfeksionisme akhirnya membuat seseorang terus menekan diri sendiri, sulit beristirahat, dan tidak pernah merasa puas dengan pencapaiannya. Di balik kerapian dan ketekunan, tersimpan kecemasan yang jarang disadari.
Memahami fakta gelap di balik perfeksionisme bukan untuk menyalahkan masa lalu, melainkan sebagai langkah awal untuk berdamai dengan diri sendiri. Jika kamu mengalami hal semacam ini, jangan ragu untuk mulai mulai meninggalkan hal yang menyakiti dirimu sendiri secara perlahan.
Mulailah dengan menurunkan standar yang terlalu tinggi dan memberi ruang bagi diri untuk melakukan kesalahan tanpa rasa bersalah. Kesalahan bukanlah bukti kegagalan, melainkan bagian dari proses menjadi manusia yang utuh.
Baca Juga: Mengapa Self Reward Penting untuk Kesehatan Mental?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah




