Suaraonline.com – Fenomena ini dikenal sebagai quarter life crisis, fase emosional yang kerap datang diam-diam dan membuat seseorang mempertanyakan arah hidupnya sendiri.
Banyak anak muda hari ini merasa hidupnya jalan di tempat saat melihat pencapaian orang lain berseliweran di media sosial. Usia dua puluhan yang seharusnya penuh semangat justru sering dipenuhi cemas, takut tertinggal, dan rasa tidak cukup.
Tips Mengatasi Rasa Tertinggal Saat Quarter Life Crisis
Pertama, nikmati proses yang sedang kamu jalani. Tidak semua pencapaian harus dirayakan dengan hal besar dan heboh. Bertahan di hari yang berat, bangun saat ingin menyerah, atau tetap berusaha meski hasil belum terlihat adalah pencapaian yang layak dihargai.
Quarter life crisis sering terasa menekan karena kita lupa mengapresiasi langkah kecil yang sebenarnya sedang membentuk kita menjadi lebih kuat.
Kedua, pahami bahwa setiap orang memiliki proses yang berbeda. Saat kamu sedang berusaha meraih A namun belum berhasil, sementara orang lain tampak mudah mendapatkannya, itu bukan berarti kamu gagal.
Kita hanya melihat hasil akhir mereka, bukan jalan panjang yang mungkin penuh luka dan air mata. Menyadari bahwa proses hidup tidak bisa dibandingkan akan membantu meredakan beban saat quarter life crisis terasa begitu berat.
Ketiga, fokuslah pada pengembangan diri dan skill, bukan mengejar atau menyalip orang lain. Ini hidup bukan perlombaan yang mengharuskan selalu duluan atau di depan. Saat energi kita habis untuk membandingkan diri, kita justru kehilangan kesempatan untuk bertumbuh.
Dengan fokus memperbaiki diri, quarter life crisis perlahan berubah dari tekanan menjadi fase belajar yang bermakna.
Seringkali perasaan tertinggal saat quarter life crisis muncul karena standar hidup yang kita serap bukan berasal dari diri sendiri. Kita merasa harus cepat sukses, harus sudah mapan, atau harus berada di titik tertentu di usia tertentu. Padahal, hidup tidak pernah seseragam itu.
Quarter life crisis bukan tanda kegagalan, melainkan sinyal bahwa kamu sedang bertumbuh dan mencari arah yang lebih jujur dengan dirimu sendiri.
Baca Juga: Overthinking: Penyebab dan Cara Menghentikannya
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




