Suaraonline.com – Kondisi quarter life crisis sering kali dianggap sepele, meski dampaknya tidak sederhana. Banyak anak muda merasa hidupnya tertinggal, bingung arah, bahkan kehilangan semangat, padahal sedang berada di fase paling produktif dalam hidup.
Fenomena kegelisahan di usia muda kini semakin sering dibicarakan, terutama di tengah tekanan sosial, tuntutan ekonomi, dan arus pencapaian yang dipamerkan di media sosial. Lantas, apa bahayanya jika hal ini terjadi di usia produktif?
Bahaya Quarter Life Crisis di Usia Produktif
Bahaya quarter life crisis di usia produktif tidak hanya berkaitan dengan perasaan galau atau bingung sesaat. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri dan masa depannya.
Rasa tidak cukup, takut gagal, dan kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain dapat perlahan menggerus kepercayaan diri. Pada titik ini, usia produktif yang seharusnya menjadi masa bertumbuh justru berubah menjadi fase stagnan.
Kemampuan fisik dan potensi diri sebenarnya sedang berada di masa puncaknya, malah terbuang sia-sia lantaran tekanan mental yang terus menumpuk hingga berdampak pada kesehatan psikologis.
Banyak orang mulai merasa cepat lelah, kehilangan motivasi bekerja, bahkan merasa hidupnya tidak memiliki tujuan yang jelas. Akibatnya pekerjaan yang seharusnya bisa ia lakukan malah tertunda atau malah hilang begitu saja.
Quarter life crisis di usia produktif juga dapat membuat seseorang terjebak dalam siklus overthinking yang berkepanjangan. Waktu habis untuk mencemaskan masa depan, sementara kesempatan untuk belajar, mengasah skill, dan membangun diri terabaikan.
Bahaya selanjutnya yaitu mempengaruhi keputusan hidup yang diambil secara impulsif. Karena ingin segera keluar dari rasa tertinggal, seseorang bisa terburu-buru memilih pekerjaan, hubungan, atau jalan hidup tanpa pertimbangan matang.
Alih-alih menemukan ketenangan, keputusan tersebut justru berpotensi menambah beban di kemudian hari.
Hal semacam ini jika tidak disadari sejak awal, fase ini bisa mencuri banyak peluang berharga. Maka penting untuk menyadari bahwa fase ini hadir bukan sebagai tanda kelemahan, melainkan langkah awal untuk memahami diri.
Dengan kesadaran dan sikap yang lebih bijak, usia produktif tetap bisa dijalani sebagai fase tumbuh, bukan fase terjebak.
Baca Juga: 4 Manfaat Menjadi Orang Aneh, Ternyata Bisa Mengurangi Stres
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




