Suaraonline.com — Baru-baru ini Aurélie Moeremans membagikan tulisannya dalam buku berjudul Broken Strings yang dapat diakses dan dibaca online secara gratis oleh publik. Di buku itu, Aurélie menceritakan pengalaman pahitnya dalam berpacaran saat di usia muda. Kasusnya ini viral di media sosial dan kembali membuka ruang diskusi publik tentang relasi remaja dan batasan usia yang kerap diabaikan.
Banyak orang lupa bahwa anak di bawah umur masih berada pada fase pembentukan mental, emosi, dan arah hidup. Relasi yang seharusnya belum mereka tanggung justru sering dibenarkan atas nama perasaan dan kedewasaan semu.
Dampak Pacaran Pada Anak Dibawah Umur
Dampak pacaran pada anak dibawah umur tidak bisa dianggap remeh, karena berpengaruh langsung pada perkembangan psikologis dan masa depan mereka.
Pertama, pacaran dapat menyebabkan menurunnya konsentrasi untuk belajar. Fokus anak yang seharusnya digunakan untuk memahami pelajaran, mengasah kreativitas, dan merangkai masa depan justru terpecah oleh persoalan emosional yang belum mampu mereka kelola dengan matang.
Kedua, pacaran membuat anak menjadi lebih mudah stres. Rasa cemburu, takut kehilangan, konflik kecil, hingga tekanan untuk selalu menyenangkan pasangan dapat menjadi beban mental. Dalam usia yang masih rentan, kondisi ini berisiko menumbuhkan kecemasan berlebihan dan kelelahan emosional yang berkepanjangan.
Ketiga, pacaran menyempitkan interaksi sosial anak. Dunia mereka perlahan berputar hanya pada satu orang, yakni pasangannya. Lingkup pergaulan menjadi terbatas, kesempatan mengenal banyak karakter terlewatkan, dan anak kehilangan ruang untuk tumbuh secara sosial. Hidup yang seharusnya luas justru terasa sempit.
Keempat, pacaran dapat menjauhkan anak dari keluarga, lingkungan sekitar, bahkan agama. Anak cenderung lebih banyak menyimpan cerita untuk pasangannya dibanding orang tua.
Waktu ibadah, kebersamaan keluarga, dan keterlibatan sosial perlahan terpinggirkan. Inilah dampak pacaran pada pikiran anak di bawah umur yang sering luput disadari.
Di banyak agama, seperti Islam, jelas melarang seorang anak untuk memiliki hubungan semacam pacaran dengan lawan jenisnya, baik sebaya mau pun dengan orang dewasa. Jelas aturan ini untuk kebaikan tumbuh kembang anak dan menjaga mereka dari apa yang sebenarnya tidak mereka pahami sepenuhnya.
Belajar dari kasus Aurélie Moeremans, penting bagi orang tua dan lingkungan untuk kembali menegaskan peran pendampingan. Anak bukan hanya perlu dijaga secara fisik, tetapi juga dilindungi ruang pikir dan masa depannya.
Baca Juga: Aurélie Moeremans Ungkap Jadi Korban Child Grooming Sejak Usia 15 Tahun Lewat Buku Broken Strings
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




