Suara Online – Banyak dari kita tumbuh dengan kebiasaan menyalahkan diri sendiri ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Padahal, tidak semua hal dalam hidup berada di bawah kendali kita. Sayangnya, kebiasaan ini sering membuat seseorang merasa gagal, tidak cukup baik, dan terus mempertanyakan nilai dirinya sendiri.
Menyalahkan diri atas hal di luar kendali biasanya muncul dari keinginan untuk merasa aman. Dengan berpikir “ini semua salahku”, kita seakan merasa memiliki kuasa atas situasi. Namun kenyataannya, pola pikir ini justru membebani mental dan mengikis kepercayaan diri secara perlahan.
Ada banyak faktor yang berada di luar kendali manusia, seperti keputusan orang lain, keadaan ekonomi, kondisi keluarga, atau peristiwa tak terduga.
Ketika semua itu dipaksakan menjadi tanggung jawab pribadi, tubuh dan pikiran akan kelelahan karena memikul beban yang tidak seharusnya.
Belajar berhenti menyalahkan diri bukan berarti lari dari tanggung jawab. Ini tentang membedakan mana yang bisa diperbaiki dan mana yang perlu diterima.
Dengan kesadaran ini, kita dapat fokus pada hal-hal yang benar-benar bisa diupayakan, bukan terus terjebak dalam penyesalan.
Salah satu langkah penting adalah mengubah cara berbicara pada diri sendiri. Alih-alih berkata “aku gagal”, cobalah menggantinya dengan “aku sudah berusaha semampuku dalam kondisi ini”.
Perubahan kalimat sederhana dapat memberi ruang untuk bernapas dan memulihkan kepercayaan diri.
Pada akhirnya, berhenti menyalahkan diri atas hal di luar kendali adalah bentuk kasih pada diri sendiri.
Ketika kita belajar menerima keterbatasan manusiawi, hidup terasa lebih ringan dan kita bisa melangkah maju tanpa terus dihantui rasa bersalah yang tidak perlu.
Baca Juga : Trauma Kecil yang Sering Diabaikan dan Pengaruhnya terhadap Kepribadian Dewasa




