Suara Online – Dalam perjalanan hidup, tidak semua fase diisi dengan kemajuan yang terlihat. Ada masa ketika usaha terasa jalan di tempat, tujuan belum tercapai, dan semangat perlahan menurun.
Fase ini sering disebut sebagai fase stagnan. Sayangnya, banyak orang menganggap stagnasi sebagai tanda kegagalan, padahal tidak selalu demikian.
Fase stagnan merupakan bagian alami dari proses bertumbuh. Sama seperti alam yang memiliki musim, manusia pun membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak sebelum melangkah lebih jauh.
Di fase ini, seseorang sering kali sedang membangun fondasi mental, emosional, dan pemahaman diri yang lebih dalam, meski hasilnya belum tampak di permukaan.
Tekanan sosial kerap memperparah perasaan tertinggal. Melihat orang lain terlihat “lebih maju” dapat memicu perbandingan yang melelahkan.
Padahal, setiap individu memiliki ritme hidup yang berbeda. Kemajuan tidak selalu bersifat linear, dan jeda bukan berarti kemunduran.
Menerima fase stagnan bukan berarti menyerah. Justru di sinilah kesempatan untuk mengevaluasi arah hidup, menyusun ulang prioritas, serta memperbaiki hal-hal yang selama ini terabaikan.
Belajar menikmati proses tanpa terus menuntut hasil instan dapat membantu menjaga kesehatan mental.
Ketika fase ini dijalani dengan kesadaran, stagnasi dapat menjadi ruang pemulihan. Dari sinilah muncul kejernihan berpikir dan kesiapan untuk melangkah lebih matang.
Hidup memang tidak selalu menanjak, namun setiap fase memiliki perannya sendiri dalam membentuk versi diri yang lebih kuat dan bijaksana.
Baca Juga : Mengapa Validasi Diri Lebih Penting daripada Terus Mencari Pengakuan Sosial




