Suaraonline.com – Hyperempathy syndrome merupakan keadaan seseorang yang terlalu peka terhadap perasaan emosional orang lain hingga mempengaruhi dirinya. Keadaan ini sering muncul saat teman, pasangan, atau keluarga bercerita tentang suatu hal kemudian justru membuat diri kita bertanggung jawab atas perasaan mereka.
Jika hal ini semakin tidak terkendali, maka akan menyebabkan diri sendiri sulit membedakan antara perasaan emosional orang lain atau dirinya. Kondisi ini justru akan membuat diri sendiri mengabaikan perasaan yang dimiliki dan cenderung ingin menyelesaikan permasalahan orang lain.
Bagaimana ciri-ciri hyperempathy syndrome? Yuk simak lebih lanjut!
Ciri-ciri Hyperempathy Syndrome
Empathy mampu membuat kita terhubung dengan orang lain dan menyadari pentingnya memahami perasaan orang lain yang ada di sekitar kita. Namun apa jadinya jika pemahaman tersebut justru terjadi secara berlebihan tanpa batas?
Itulah yang dinamakan hyperempathy syndrome yang dimana perasaan empati itu justru muncul secara berlebihan. Meskipun kurang empati itu tidak baik, namun empati yang berlebihan juga akan membawa dampak negatif.
Inilah ciri-ciri seseorang yang mengalami hyperempathy syndrome:
1. Emosionalnya Semakin Terkuras
Terlalu sering untuk merasakan perasaan orang lain dapat menyebabkan perasaan emosional diri sendiri semakin terkuras. Hal ini dapat terjadi karena kita terlalu lelah berinteraksi dengan orang lain.
2. Sulit Menentukan Batasan
Ciri-ciri lain bagi seseorang yang mengalami hyperempathy syndrome adalah sulit menentukan batasan antara dirinya dan orang lain. Oleh karena itu, tak jarang seseorang yang memiliki syndrome ini sangat sulit menolak permintaan orang lain.
Kurangnya batasan ini juga dapat menyebabkan stres karena ia tidak memiliki ruang cukup bagi dirinya karena terlalu sibuk memikirkan perasaan dan masalah orang lain yang sama-sama tidak ada habisnya.
3. Mengalami Gangguan Kecemasan
Ketika orang lain sedang mengalami masalah, justru kita mendahulukan menyelesaikan masalah orang lain daripada masalah yang ada pada diri sendiri. Padahal penting bagi kita untuk menyelesaikan masalah pribadi dan tidak terlalu cemas terhadap permasalahan orang lain.
Coba bayangkan jika kita terus kepikiran dengan masalah orang lain maka yang ada masalah itu justru akan membuat beban di pikiran kita sendiri yang pada akhirnya malah merugikan diri sendiri.
4. Kurangnya Empati Terhadap Diri Sendiri
Ketika selalu fokus dan berempati terhadap masalah orang lain, justru membuat kita mengesampingkan masalah diri sendiri dan mengabaikan empati untuk diri. Padahal, penting bagi kita untuk tidak mengabaikan empati diri sendiri agar hidup semakin sejahterah.
5. Sering Overthinking
Ketika ada seseorang yang menceritakan masalahnya, justru akan membuat orang yang memiliki hyperempathy syndrome ini akan semakin overthinking.
Ia merasa jika masalah orang lain itu adalah tanggung jawab yang harus segera dicarikan jalan keluar dan diselesaikan sehingga tidak akan membuatnya berlarut-larut dalam pikiran negatif.
Cara Mengelola Hyperempathy Syndrome
Supaya tidak merugikan diri sendiri, penting juga bagi kita dalam mengelola hyperempathy syndrome ini. Berikut ini cara yang tepat dalam mengelolanya:
1. Terapkan Batasan Emosional
Sangat penting bagi kita untuk bisa menerapkan batasan emosional antara diri sendiri dan orang lain. Kita tidak harus selalu dapat mengerti perasaan setiap orang.
2. Jangan Ragu Menolak Sesuatu
Jika ada suatu hal yang memang tidak bisa dikerjakan, jangan takut atau ragu untuk menolak permintaan orang lain. Mulailah berani untuk mengatakan “tidak” supaya nantinya juga tidak membebankan diri sendiri.
3. Fokus ke Diri Sendiri
Mulailah untuk fokus pada diri sendiri dengan melakukan hobi atau hal-hal yang disukai untuk menenangkan pikiran dan relaksasi.
Itulah tadi pembahasan mengenai ciri-ciri dan cara mengelola hyperempathy syndrome. Empati memang hal yang wajib diterapkan dalam kehidupan. Namun, alangkah baiknya juga tetap membatasi diri agar tidak memberikan perasaan empati tersebut secara berlebihan dan sampai merugikan diri sendiri.
Baca Juga: Butterfly Era: Perasaan Cinta dan Kagum dengan Seseorang serta Inilah 6 Ciri-cirinya!
Penulis: Suci Wulandari




