Suara Online – Di era media sosial, linimasa orang lain sering terasa seperti standar hidup yang harus dikejar.
Ada yang menikah lebih cepat, kariernya melesat, atau terlihat sudah menemukan arah hidup.
Tanpa disadari, kita mulai mengukur diri sendiri berdasarkan pencapaian orang lain, bukan kebutuhan dan ritme pribadi.
Padahal, setiap orang memiliki titik awal, kondisi, dan proses yang berbeda. Membangun kehidupan tanpa mengikuti linimasa orang lain berarti berani menerima bahwa perjalanan hidup tidak bersifat seragam.
Tidak semua orang harus mencapai hal yang sama di usia yang sama. Membandingkan diri hanya akan menambah tekanan dan mengaburkan makna perjalanan itu sendiri.
Ketika terlalu fokus pada linimasa orang lain, kita cenderung membuat keputusan demi terlihat “tidak tertinggal”. Pilihan hidup pun sering didasari rasa takut, bukan kesadaran. Akibatnya, kebahagiaan terasa rapuh karena dibangun di atas ekspektasi eksternal.
Membangun kehidupan secara sadar dimulai dari mengenali nilai dan prioritas pribadi.
Apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri, bukan bagi lingkungan atau media sosial. Dengan begitu, setiap langkah terasa lebih bermakna meski berjalan lebih lambat.
Hidup bukan perlombaan. Tidak ada garis finis yang sama untuk semua orang. Saat kita berhenti mengikuti linimasa orang lain, fokus bergeser dari pembuktian menjadi pertumbuhan.
Di sanalah ketenangan dan rasa cukup perlahan terbentuk, karena hidup dijalani sesuai versi diri sendiri, bukan versi orang lain.
Baca Juga : Mengapa Konsistensi Lebih Sulit daripada Motivasi: Tantangan Bertahan Saat Semangat Mulai Turun




