Suara Online – Dalam hidup, tidak semua hal bisa dipertahankan selamanya. Ada fase ketika bertahan adalah bentuk komitmen, tetapi ada juga saat melepaskan justru menjadi pilihan paling sehat.
Masalahnya, banyak orang terjebak terlalu lama karena takut salah memilih antara bertahan atau melepaskan.
Bertahan menjadi tepat ketika sebuah hubungan atau situasi masih memberi ruang untuk bertumbuh. Meski tidak selalu nyaman, masih ada komunikasi yang jujur, usaha dua arah, dan rasa saling menghargai.
Bertahan dalam kondisi seperti ini adalah bentuk kesabaran yang sadar, bukan pengorbanan tanpa arah. Sebaliknya, melepaskan perlu dipertimbangkan ketika yang tersisa hanya kelelahan emosional.
Jika batasan terus dilanggar, rasa aman menghilang, dan perubahan hanya datang dari satu pihak, bertahan justru bisa melukai diri sendiri. Melepaskan bukan berarti menyerah, melainkan bentuk perlindungan terhadap kesehatan mental.
Sering kali, keputusan menjadi kabur karena rasa takut sendirian atau kekhawatiran akan penilaian orang lain.
Padahal, bertahan atau melepaskan seharusnya didasarkan pada dampaknya terhadap diri, bukan pada ekspektasi eksternal.
Mendengarkan kebutuhan diri sendiri adalah langkah penting dalam mengambil keputusan yang jujur.
Pada akhirnya, tidak ada pilihan yang sepenuhnya mudah. Namun, saat bertahan membuat diri kehilangan arah, dan melepaskan membuka ruang untuk pulih, mungkin itulah jawaban yang selama ini dihindari.
Baca Juga : Membangun Kehidupan tanpa Mengikuti Linimasa Orang Lain agar Tidak Terjebak Perbandingan




