Suara Online – Banyak orang menjalani hidup seolah sedang mengikuti perlombaan tanpa garis akhir yang jelas. Usia menjadi patokan, pencapaian dijadikan ukuran, dan hidup orang lain sering kali dijadikan pembanding.
Tanpa disadari, tekanan ini membuat seseorang lupa bahwa hidup bukanlah ajang adu cepat. Ketika hidup dianggap sebagai perlombaan, setiap keterlambatan terasa seperti kegagalan.
Padahal, setiap orang memiliki ritme, latar belakang, dan proses yang berbeda. Ada yang menemukan arah lebih awal, ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk memahami dirinya sendiri. Semua itu sama-sama valid.
Masalah muncul saat seseorang memaksakan diri mengejar standar yang bukan miliknya. Alih-alih menikmati proses, energi habis untuk membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Perasaan tertinggal, cemas, dan tidak cukup baik pun perlahan menguasai pikiran.
Hidup bukan tentang siapa yang lebih dulu sampai, melainkan bagaimana seseorang bertumbuh di sepanjang perjalanan.
Ada pelajaran berharga dalam fase lambat, ada kedewasaan yang lahir dari kegagalan, dan ada makna yang hanya bisa dipahami setelah melalui proses tertentu.
Menghentikan kebiasaan membandingkan diri bukan hal mudah, tetapi bisa dimulai dengan menyadari bahwa setiap orang sedang berjalan di jalurnya masing-masing. Fokus pada perkembangan diri hari ini jauh lebih penting daripada terus menoleh ke lintasan orang lain.
Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan yang harus dimenangkan. Hidup adalah perjalanan untuk dipahami, dijalani, dan dimaknai dengan cara yang paling jujur terhadap diri sendiri.
Baca Juga : Kapan Harus Bertahan dan Kapan Harus Melepaskan agar Tidak Terjebak dalam Hubungan yang Melelahkan




