Suaraonline.com — Banyak anak muda hari ini merasa lelah tanpa tahu pasti apa penyebabnya. Di usia yang seharusnya penuh semangat dan harapan, justru muncul rasa bingung, tertinggal, dan tidak cukup baik.
Kondisi inilah yang kerap disebut sebagai quarter life crisis, fase krisis yang diam-diam dialami banyak orang di usia 20–30-an.
Penyebab Quarter Life Crisis pada Anak Muda
Pertama, tekanan sosial dan perbandingan hidup yang tidak ada habisnya. Media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat selalu lebih rapi, lebih cepat berhasil, dan lebih bahagia.
Tanpa sadar, anak muda mulai mengukur hidupnya dengan pencapaian orang lain. Ketika merasa belum sampai di titik yang “seharusnya”, muncul rasa gagal, padahal setiap orang berjalan dengan waktunya masing-masing.
Kedua, ketidakjelasan arah hidup dan karier. Banyak anak muda tumbuh dengan tuntutan untuk cepat sukses, tetapi tidak diberi ruang cukup untuk mengenal diri sendiri.
Lulus sekolah, masuk kuliah, lalu bekerja, semuanya berjalan seperti kewajiban, bukan pilihan sadar. Saat realita tidak sesuai ekspektasi, muncullah kebingungan: apakah ini hidup yang benar-benar diinginkan atau sekadar dijalani?
Ketiga, tekanan untuk selalu kuat dan mandiri. Anak muda sering dituntut untuk terlihat baik-baik saja, meski di dalam sedang berantakan.
Perasaan lelah, ragu, dan takut dianggap sebagai kelemahan. Akibatnya, banyak yang memendam emosi sendiri tanpa tempat bercerita, hingga akhirnya merasa sendirian dalam menghadapi hidup.
Quarter life crisis bukan tanda kegagalan, melainkan sinyal bahwa seseorang sedang bertumbuh dan mencari makna hidupnya.
Fase ini memang tidak nyaman, tetapi sering kali menjadi titik awal untuk mengenal diri lebih jujur, menyusun ulang tujuan, dan belajar berdamai dengan proses. Tidak semua orang harus cepat sampai, yang terpenting adalah tetap berjalan.
Jadi, itulah penyebab quarter life crisis pada anak muda.
Baca Juga: Cara Mudah Memulai Karier sebagai Ads Content Creator
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




