Suaraonline.com — Fenomena hopeless romantic kini semakin sering dibicarakan, terutama di kalangan anak muda. Banyak orang tanpa sadar terjebak dalam pola pikir yang terlalu memusatkan kebahagiaan pada cinta.
Akibatnya, harapan menjadi tidak realistis dan perasaan mudah sekali terluka. Memahami penyebab hopeless romantic menjadi langkah awal agar seseorang tidak terus terjebak dalam ekspektasi yang berlebihan terhadap hubungan.
Penyebab Hopeless Romantic Pada Seseorang
Penyebab hopeless romantic pertama sering kali berasal dari pengaruh media yang terlalu kuat. Sejak kecil, seseorang disuguhkan tayangan film, drama, hingga kisah romantis yang menggambarkan seolah hidup akan sempurna jika telah menemukan cinta sejati.
Narasi ini membentuk keyakinan bahwa kebahagiaan hanya bisa diraih melalui hubungan romantis, bukan dari pencapaian diri atau kedewasaan emosional. Tanpa disadari, pola pikir tersebut tertanam dan memengaruhi cara seseorang memandang hubungan.
Penyebab hopeless romantic kedua berkaitan dengan kekosongan emosional atau rasa kesepian yang tidak terselesaikan. Saat seseorang merasa kurang mendapatkan validasi, perhatian, atau kasih sayang, ia cenderung menaruh harapan besar pada cinta.
Hubungan romantis diposisikan sebagai penyelamat luka batin, padahal cinta bukan solusi tunggal untuk menyelesaikan masalah emosional yang lebih dalam.
Penyebab hopeless romantic ketiga adalah kecenderungan terlalu sering berimajinasi dan berandai-andai. Alih-alih melihat sikap orang lain secara objektif, seseorang lebih fokus pada kemungkinan romantis yang ia ciptakan sendiri.
Tatapan singkat, perhatian kecil, atau interaksi biasa bisa dimaknai sebagai tanda cinta. Pola ini membuat seseorang jatuh pada asumsi, bukan pada kenyataan yang sebenarnya terjadi.
Jika dibiarkan, penyebab hopeless romantic dapat berdampak pada hubungan yang tidak sehat dan kekecewaan berulang.
Oleh karena itu, penting untuk mengenali akar masalahnya sejak awal. Menempatkan cinta secara proporsional dan tetap berpijak pada realitas menjadi kunci agar perasaan tidak terus-menerus terseret oleh harapan yang berlebihan.
Baca Juga: 4 Manfaat Menjadi Orang Aneh, Ternyata Bisa Mengurangi Stres
Editor: Annisa Adelina Sumadillah




