Salatiga, Suara Online – Maraknya kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor dan kendaraan besar kembali memunculkan sorotan terhadap pola edukasi keselamatan berkendara di Indonesia.
Sejumlah warga menilai, upaya pencegahan selama ini masih terlalu fokus pada penindakan, sementara pendekatan komunikasi yang menyentuh perilaku pengendara dinilai belum maksimal.
Di berbagai jalur rawan kecelakaan, khususnya jalan nasional, jalur lingkar, hingga kawasan industri, nyaris tidak ditemukan slogan atau banner peringatan yang secara spesifik menyasar kebiasaan berbahaya pengendara, seperti menyalip truk dari sisi kiri atau memaksakan diri di ruang sempit.
Padahal, berdasarkan berbagai unggahan kecelakaan di media sosial seperti Instagram portalsemarang, banyak insiden terjadi akibat faktor manusia atau human error, terutama sikap terburu-buru dan kurang sabar di jalan raya.
Menurut pengamatan warga, imbauan lalu lintas yang ada selama ini cenderung normatif dan administratif, seperti “Patuhilah Rambu Lalu Lintas” atau “Utamakan Keselamatan”.
Pesan tersebut dinilai kurang efektif karena tidak menggambarkan risiko nyata yang dihadapi pengendara dalam hitungan detik.
“Di jalan itu orang nggak mikir pasal, yang kebaca cuma kalimat singkat. Harusnya ada peringatan yang langsung ke bahaya, misalnya soal truk yang nggak bisa ngerem mendadak,” tulis salah satu warganet di kolom komentar unggahan kecelakaan.
Sejumlah pihak menilai, pemasangan banner atau slogan keselamatan dengan bahasa sederhana dan tegas bisa menjadi inovasi edukasi yang efektif.
Pesan visual yang kuat dinilai mampu mempengaruhi keputusan pengendara secara cepat, terutama di titik rawan kecelakaan.
Pendekatan ini juga dinilai lebih preventif dibandingkan penindakan setelah kecelakaan terjadi.
Warga berharap, kepolisian dan instansi terkait dapat mulai mengembangkan strategi komunikasi lalu lintas yang tidak hanya menegakkan aturan, tetapi juga membentuk kesadaran dan empati pengendara di jalan.
Dengan meningkatnya volume kendaraan dan mobilitas masyarakat, edukasi keselamatan berbasis perilaku dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar kecelakaan serupa tidak terus berulang.
Baca Juga : Kurangnya Kesabaran Berkendara Jadi Sorotan Usai Kecelakaan Maut di Jalan Lingkar Salatiga




