Semarang, Suara Online – Rentetan kecelakaan lalu lintas yang kembali terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah kembali memunculkan perbincangan di tengah masyarakat.
Di media sosial, tidak sedikit warganet yang mengaitkan peristiwa kecelakaan dengan takdir, terutama ketika insiden berujung korban jiwa.
Ungkapan seperti “sudah takdir” atau “ajal tidak ke mana” kerap muncul ditengah-tengah masyarakat melihat informasi kecelakaan.
Pandangan tersebut dinilai sebagai bentuk penerimaan atas musibah, namun di sisi lain juga memunculkan kekhawatiran akan rendahnya kesadaran keselamatan berlalu lintas.
Sejumlah warga menilai, meskipun takdir menjadi keyakinan banyak orang, faktor manusia dan kepatuhan terhadap aturan lalu lintas tetap memiliki peran besar dalam mencegah kecelakaan.
Perilaku berkendara seperti terburu-buru, menyalip sembarangan, hingga kurangnya kewaspadaan masih sering ditemui di jalan raya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa setiap kejadian kecelakaan tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga menyisakan refleksi sosial.
Tragedi di jalan kerap berlalu begitu saja tanpa diiringi perubahan sikap berkendara yang lebih disiplin.
Warganet pun berharap, narasi tentang takdir tidak mengaburkan pentingnya evaluasi keselamatan, baik dari sisi pengendara, kondisi kendaraan, maupun infrastruktur jalan.
Edukasi dan kesadaran kolektif dinilai menjadi kunci agar peristiwa serupa tidak terus berulang.
Dengan menjadikan kecelakaan sebagai pelajaran bersama, masyarakat diharapkan tidak hanya berhenti pada rasa prihatin, tetapi juga mendorong perubahan perilaku demi keselamatan di jalan raya.
Baca Juga : Sudah Tahu Risiko, Masih Nekat: Kesadaran Berlalu Lintas Dinilai Belum Berbuah Perilaku Aman




