Suara Online, Semarang – Hujan yang mengguyur Kota Semarang sejak Minggu sore (2/2/2026) kembali menyebabkan genangan air di kawasan Muktiharjo, Bangetayu, hingga Genuk.
Wilayah ini memang dikenal sebagai titik langganan banjir setiap kali curah hujan meningkat.
Menurut pantauan warga setempat, genangan mulai muncul tidak lama setelah hujan turun.
Kondisi tersebut kerap berulang tanpa adanya perubahan berarti dari tahun ke tahun. Akibatnya, aktivitas lalu lintas di jalur tersebut sering terganggu.
Jalan di kawasan Muktiharjo–Bangetayu merupakan akses penting yang dilalui berbagai jenis kendaraan, mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, hingga truk besar.
Saat air menggenang, pengendara terpaksa melambat bahkan mencari jalur alternatif demi menghindari risiko mogok atau kecelakaan.
Sejumlah warga mengaku sudah berkali-kali menyampaikan keluhan kepada pihak terkait. Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari laporan langsung hingga penyampaian aspirasi melalui media sosial.
Namun hingga kini, mereka merasa belum ada tindakan nyata yang mampu menyelesaikan persoalan tersebut.
Minimnya sistem drainase yang memadai diduga menjadi salah satu penyebab utama genangan sulit surut.
Kondisi ini diperparah dengan padatnya kawasan pemukiman serta aktivitas industri di sekitar wilayah Genuk.
Di tengah keterbatasan solusi, warga hanya bisa mendokumentasikan kondisi banjir dan mengunggahnya ke media sosial sebagai bentuk suara protes.
Kalimat “banjir lagi” seolah menjadi ungkapan rutin yang muncul setiap kali hujan mengguyur.
Masyarakat berharap pemerintah Kota Semarang dapat memberikan perhatian lebih serius terhadap persoalan ini.
Penanganan jangka panjang seperti perbaikan drainase, normalisasi saluran air, dan pengelolaan lingkungan dinilai sangat dibutuhkan agar genangan tidak terus berulang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai langkah penanganan yang akan dilakukan untuk mengatasi banjir di kawasan tersebut.
Baca Juga : Kecelakaan Minibus di Ungaran Tekankan Pentingnya Edukasi Sopir dan Standar Keselamatan




