Suara Online – Beberapa tahun terakhir, suara dentuman speaker besar semakin sering terdengar di jalanan dan perkampungan.
Iring-iringan kendaraan dengan musik menggelegar seolah menjadi pemandangan biasa. Bagi sebagian orang, itu dianggap hiburan dan kesenangan komunitas.
Tetapi bagi banyak warga lainnya, aktivitas ini justru terasa seperti gangguan yang tidak ada habisnya.
Bagi sebagian orang, ini dianggap hiburan. Tapi bagi banyak warga lainnya, sound horeg sudah berubah jadi sumber keresahan yang tak kunjung selesai.
Coba buka kolom komentar media sosial setiap kali ada video sound horeg. Isinya hampir seragam: keluhan, kekesalan, bahkan hujatan.
Banyak yang bertanya dengan nada sinis, “Sebenarnya sound horeg ini faedahnya apa?” Ada juga yang menyindir, “Apa mereka pengangguran, kok hidupnya sound-sound-an terus?”
Komentar seperti itu mungkin terdengar kasar, tapi lahir dari rasa jengkel yang menumpuk.
Bayangkan harus mendengar suara musik keras berjam-jam, rumah bergetar, anak kecil susah tidur, orang tua tidak bisa istirahat, sementara pemilik sound horeg merasa sedang bersenang-senang tanpa memikirkan dampaknya.
Di sinilah masalah utamanya: minimnya empati sosial.
Hiburan memang hak setiap orang. Tidak ada yang melarang orang menikmati musik atau menyalurkan hobi.
Tetapi kebebasan itu seharusnya berhenti ketika mulai mengganggu ketenangan orang lain.
Pengeras suara dengan volume ekstrem di area permukiman jelas bukan lagi soal selera, melainkan soal etika hidup bersama.
Banyak netizen juga bertanya, “Kalau sudah tahu meresahkan, kok ya tetap dibiarkan beroperasi?” Pertanyaan ini sebenarnya sangat masuk akal. Di atas kertas, aturan tentang kebisingan sudah ada.
Batas volume, jam operasional, dan izin kegiatan seharusnya jelas. Masalahnya, di lapangan sering kali aturan itu longgar atau bahkan diabaikan.
Edukasi untuk komunitas sound horeg menjadi sangat penting. Mereka perlu sadar bahwa ruang publik bukan milik pribadi.
Memutar musik keras di tengah permukiman tanpa memikirkan dampaknya bukan bentuk kreativitas, melainkan bentuk ketidakpedulian.
Menurunkan volume, memilih lokasi yang lebih tepat, atau membatasi durasi kegiatan sebenarnya langkah sederhana.
Sayangnya, hal-hal dasar seperti ini sering dianggap sepele. Akibatnya, yang muncul justru konflik dengan warga sekitar.
Di sisi lain, hujatan di media sosial juga bukan solusi. Menghina pelaku sound horeg sebagai pengangguran atau menyudutkan secara personal tidak akan menyelesaikan apa pun.
Kritik seharusnya diarahkan pada perilaku dan regulasi, bukan pada merendahkan manusia.
Pada akhirnya, persoalan sound horeg bukan hanya tentang suara keras, tetapi tentang kesadaran sosial.
Hiburan yang baik seharusnya membawa kegembiraan, bukan menciptakan ketidaknyamanan massal.
Kalau para pelaku sound horeg mau sedikit lebih peka, dan pihak berwenang lebih tegas mengatur, fenomena ini tidak perlu terus menjadi sumber hujatan.
Sederhana saja: bersenang-senang boleh, tapi jangan sampai mengorbankan ketenangan orang lain.
Baca Juga : Sound Horeg dan Respons Publik: Hindari Kebisingan Tanpa Seksualisasi Identitas Suku




