Suara Online – Bayangkan sebuah negara di mana warganya selalu patuh tanpa banyak bertanya. Apa pun kebijakan yang keluar, langsung diterima begitu saja.
Tidak ada kritik, tidak ada protes, tidak ada diskusi. Sekilas, kondisi seperti ini terdengar nyaman.
Pemerintah bisa bekerja lebih mudah, tidak ada demo, tidak ada perdebatan panjang di media sosial, dan semuanya tampak berjalan tenang.
Tetapi pertanyaannya, ketenangan itu sebenarnya menguntungkan siapa?
Jika masyarakat Indonesia lebih sering manut, dampak pertama yang paling terasa adalah hilangnya fungsi kontrol sosial.
Padahal dalam sistem demokrasi, rakyat bukan hanya objek kebijakan, tetapi juga pengawas kebijakan.
Tanpa kritik dari masyarakat, pemerintah bisa merasa selalu benar. Kebijakan yang seharusnya dikoreksi malah terus berjalan, program yang tidak tepat sasaran tidak pernah dievaluasi, dan kesalahan bisa berulang karena tidak ada tekanan untuk memperbaiki diri.
Budaya manut memang sudah lama melekat dalam kehidupan sosial kita. Sejak kecil banyak orang diajari untuk patuh kepada atasan, tidak membantah, dan mengikuti aturan tanpa banyak bertanya.
Sikap seperti ini mungkin cocok dalam hubungan keluarga atau budaya sopan santun.
Namun dalam kehidupan bernegara, kepatuhan buta justru bisa berbahaya. Negara membutuhkan dialog, perbedaan pendapat, dan bahkan perdebatan sehat agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar matang.
Masyarakat yang terlalu patuh juga cenderung menjadi pasif. Ketika ada aturan yang merugikan, mereka memilih diam. Ketika ada ketidakadilan, mereka lebih memilih pasrah daripada bersuara.
Lama-kelamaan, sikap kritis pun mati. Padahal banyak perubahan besar di Indonesia justru lahir karena rakyat berani tidak manut.
Reformasi, perbaikan pelayanan publik, hingga revisi berbagai kebijakan, semuanya terjadi karena ada keberanian untuk mengkritik dan menuntut perubahan.
Bukan berarti rakyat harus selalu melawan pemerintah. Tidak semua kebijakan itu buruk, banyak juga program yang memang baik dan perlu didukung. Namun dukungan yang sehat bukan berarti menerima tanpa berpikir.
Rakyat yang cerdas adalah rakyat yang mampu menilai secara objektif, mana kebijakan yang layak diikuti dan mana yang perlu dikritisi.
Jika suatu hari masyarakat Indonesia benar-benar menjadi sangat penurut, mungkin negara ini akan terlihat lebih tenang.
Tidak ada kegaduhan politik, tidak banyak protes, dan semua tampak terkendali. Namun di balik ketenangan itu, demokrasi bisa perlahan kehilangan rohnya.
Pemerintah yang tidak pernah dikritik akan sulit berkembang, sementara rakyat yang selalu diam akan kehilangan haknya sebagai pengontrol kekuasaan.
Pada akhirnya, negara yang sehat bukanlah negara dengan rakyat yang selalu patuh, melainkan negara dengan rakyat yang berani berpikir, berani bertanya, dan berani bersuara ketika ada yang salah.
Manut boleh saja, tetapi kritis tetap harus menjadi bagian dari karakter masyarakat Indonesia.
Baca Juga : Muak dengan Masalah Banjir, Sampai Jadi Tradisi : Siapa yang Paling Dominan Disalahkan?




