Suara Online
  • Beranda
  • Bisnis
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Teknologi
Subscribe
Suara OnlineSuara Online
Aa
Search
  • Pages
    • Home
    • Blog Index
    • Contact Us
    • Search Page
    • 404 Page
  • Categories
  • Personalized
    • My Saves
    • My Feed
    • My Interests
    • History
Follow US
Lebih Baik Jadi Rakyat Pintar atau Bodoh? Ketika Kritik ke Pemerintah Hanya Jadi Angin Lalu

Beranda – Rakyat Pintar atau Bodoh – Lebih Baik Jadi Rakyat Pintar atau Bodoh? Ketika Kritik ke Pemerintah Hanya Jadi Angin Lalu

ArtikelInformasi

Lebih Baik Jadi Rakyat Pintar atau Bodoh? Ketika Kritik ke Pemerintah Hanya Jadi Angin Lalu

Salsabila Humairo Azzahro
Salsabila Humairo Azzahro
Share
Lebih Baik Jadi Rakyat Pintar atau Bodoh? Ketika Kritik ke Pemerintah Hanya Jadi Angin Lalu
SHARE

Suara Online – Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi jawabannya cukup menohok: sebenarnya di negeri ini, lebih enak jadi rakyat pintar atau bodoh? Secara logika, tentu semua orang ingin jadi pintar. 

Punya wawasan, paham hak sebagai warga negara, kritis terhadap kebijakan, dan berani bersuara ketika ada yang salah. Tetapi kenyataan sosial sering berkata lain.

Di Indonesia, jadi rakyat pintar kadang terasa melelahkan. Kamu tahu ada kebijakan keliru, kamu paham ada program yang tidak tepat sasaran, kamu melihat ketidakadilan terjadi di depan mata. 

Lalu kamu protes, mengkritik, memberi masukan. Hasilnya apa? Sering kali kritik itu hanya dianggap angin lalu. 

Pemerintah tetap berjalan dengan versinya sendiri. Aspirasi rakyat cuma dijadikan formalitas. 

Didengar iya, ditindaklanjuti belum tentu. Akhirnya banyak orang sampai di titik pasrah dan berpikir, “buat apa capek-capek mikir, toh tidak ada yang berubah.”

Di sinilah ironi mulai terasa. Rakyat pintar sering dianggap cerewet. Rakyat kritis malah dicap pembangkang. 

Sementara rakyat yang diam, manut, dan tidak banyak protes justru terlihat lebih aman. 

Seolah-olah sistem memang lebih nyaman dengan warga yang tidak terlalu banyak tahu dan tidak terlalu banyak menuntut. 

Padahal, negara maju justru lahir dari masyarakat yang kritis. Demokrasi yang sehat membutuhkan rakyat yang berani bertanya, bukan rakyat yang hanya menerima tanpa berpikir.

Masalahnya, budaya kita masih sering alergi terhadap kritik. Ketika ada warga mengeluh soal jalan rusak, dibilang kurang bersyukur. 

Ketika ada yang menyoroti bantuan tidak tepat sasaran, dianggap memprovokasi. Ketika ada mahasiswa demo menyuarakan aspirasi, langsung dicap bikin keributan.

Lama-lama muncul pola pikir berbahaya: lebih baik diam saja daripada bersuara. Banyak orang akhirnya memilih menahan pendapat demi hidup yang terasa lebih tenang.

Di sisi lain, rakyat yang memilih bersikap “bodoh amat” justru hidupnya terlihat lebih santai. Tidak pusing memikirkan negara, tidak capek debat di media sosial, tidak repot memantau kebijakan publik. 

Tapi pertanyaannya, sampai kapan kita mau seperti itu? Kalau semua orang memilih pura-pura bodoh, siapa yang akan mengawasi kekuasaan? Kalau semua kritik dianggap percuma, siapa yang akan memperbaiki keadaan? Negara tidak akan maju kalau rakyatnya hanya disuruh diam.

Memang benar, tidak semua kritik langsung membawa perubahan. Banyak aspirasi yang seolah menguap begitu saja. Tetapi bukan berarti bersuara itu sia-sia.

Setidaknya, suara kritis adalah bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa. Lebih baik menjadi rakyat pintar yang terus berusaha meski sering diabaikan, daripada menjadi rakyat bodoh yang nyaman dalam ketidaktahuan. 

Karena pemerintah boleh saja mengabaikan kritik hari ini, tetapi suara rakyat yang terus menyala tidak akan selamanya bisa ditutup telinga.

Jadi jawabannya sebenarnya jelas. Lebih baik jadi rakyat pintar. Walaupun melelahkan, walaupun kadang dianggap angin lalu, walaupun sering bikin frustrasi, tetap lebih terhormat daripada memilih bodoh demi hidup yang pura-pura tenang.

Sebab masa depan bangsa tidak pernah dibangun oleh orang-orang yang memilih diam.

Baca Juga : Apa Jadinya Kalau Masyarakat Indonesia Lebih Sering “Manut” Kebijakan Pemerintah?

TAGGED: Rakyat Pintar atau Bodoh, Kebijakan pemerintah, Kritik Pemerintah
Share This Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified Blog

Seedbacklink

Rumah Anak Surga

Hotel Karantina Qur’an

Rental Motor Semarang

You Might Also Like

Ketika Berjalan Kaki Dianggap Rendah: Penyebab Budaya Jalan Kaki yang Nyaris Mati di Indonesia
ArtikelBerita

Ketika Berjalan Kaki Dianggap Rendah: Penyebab Budaya Jalan Kaki yang Nyaris Mati di Indonesia

3 Min Read
Drama Lampu Sein Emak-emak di Jalan Raya, Mau Sampai Kapan Dimaklumi?
ArtikelBerita

Drama Lampu Sein Emak-emak di Jalan Raya, Mau Sampai Kapan Dimaklumi?

4 Min Read
Makin Bermasalah, Makin Terkenal: Alasan Culture Cancel Tidak Berguna di Indonesia
ArtikelBerita

Makin Bermasalah, Makin Terkenal: Alasan Culture Cancel Tidak Berguna di Indonesia

4 Min Read
Apa Jadinya Kalau Masyarakat Indonesia Lebih Sering “Manut” Kebijakan Pemerintah?
ArtikelInformasi

Apa Jadinya Kalau Masyarakat Indonesia Lebih Sering “Manut” Kebijakan Pemerintah?

3 Min Read
Suara Online

Suaraonline.com : The voice of netizen

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Privacy Police
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?