Suaraonline.com – Istilah cemerlang di sekolah, tapi gagal di masyarakat, akhir-akhir ini sering menjadi topik pembahasan warganet. Banyak orang menilai bahwa teman mereka yang dulu dijuluki sebagai siswa terpintar di sekolah, saat di masyarakat malah tak memiliki karir yang cemerlang juga.
Hal semacam ini, tentunya harus kita telisik dari hal paling dasar yaitu sekolah. Mengapa anak yang pintar di sekolah, tapi nol besar di masyarakat?
Di sekolah sering kali kita melihat murid hanya sibuk menghafal materi yang ada di buku, mereka hafal persis sampai titik komanya pun hafal, tanpa benar-benar paham apa yang sebenarnya mereka hafalkan.
Saat ujian mereka menjawab pertanyaan sama persis kalimatnya seperti di buku, mereka seolah hanya memindahkan tulisan ke kertas ujian. Nilai sempurna tapi pemahaman nol besar.
Pernah gak kamu merasa setelah ujian, materi yang kamu hafal seketika pudar bahkan hilang begitu saja? Inilah efeknya jika otak hanya digunakan untuk menghafal tanpa diajak berpikir analitis.
Hal ini terjadi tentu saja bukan tanpa sebab, sering kali pendidikan Indonesia hanya menginginkan pelajar yang “terlihat pintar” bisa menggunakan bahasa ilmiah dalam kertas ujiannya, urusan paham atau tidak, sering kali bukan menjadi prioritas utama. Akibatnya, menghafal menjadi strategi paling aman untuk meraih nilai tinggi.
Budaya belajar kebut semalam juga menjadi salah satu alasan mengapa menghafal lebih sering dilakukan pelajar Indonesia ketimbang memahami apa yang mereka pelajari. Menghafal menjadi jalan cepat meraih nilai wow dalam waktu semalam.
Padahal, menghafal dan memahami sesuatu jelas akan terasa berbeda saat mulai terjun di masyarakat. Saat kita hanya tahu rangkaian kata yang dihafal, tanpa tahu maknanya, kita jadi tidak bisa mengaplikasikan pelajaran itu dalam kehidupan sehari-hari.
Teori yang penuh di kepala jadi tak berguna kalau kita bahkan tidak tahu bagaimana cara menggunakannya. Ambil contoh dalam fisika, seperti konsep hubungan antara gaya, usaha, dan jarak.
Secara sederhana, semakin panjang jarak yang ditempuh dalam suatu sistem, gaya yang dibutuhkan bisa menjadi lebih kecil, seperti pada penggunaan katrol atau bidang miring. Jika hanya menghafal rumus tanpa memahami konsepnya, maka ilmu itu tidak akan berguna ketika menghadapi persoalan nyata yang membutuhkan logika dan analisis.
Teori yang memenuhi kepala tidak akan berarti jika kita tidak tahu cara menggunakannya. Inilah yang kadang memunculkan fenomena murid cemerlang di sekolah, tetapi kebingungan saat menghadapi tantangan sosial, dunia kerja, atau problem kehidupan yang tidak memiliki pilihan jawaban A, B, C, dan D.
Dan perlu diingat, otak manusia merupakan teknologi paling canggih yang Tuhan berikan, sangat sayang jika hanya digunakan untuk ditempelkan kata-kata yang digunakan hanya untuk nilai dan ingatan ini biasanya berjangka pendek. Padahal, berpikir kritis, menganalisis, dan memecahkan masalah jauh lebih dibutuhkan dalam kehidupan nyata.
Maka, mungkin yang perlu kita benahi bukan semangat belajar anak-anaknya, melainkan cara kita memaknai belajar itu sendiri. Tidak semua pelajaran harus dihafalkan. Yang jauh lebih penting adalah memahami, mengolah, dan mampu menerapkannya dalam kehidupan. Sebab di masyarakat, yang diuji bukan sekadar ingatan, melainkan cara berpikir dan kemampuan bertindak.
Baca Juga: Drama Lampu Sein Emak-emak di Jalan Raya, Mau Sampai Kapan Dimaklumi?
Penulis: Annisa Adelina Sumadillah.




