Suaraonline.com – Buat apa sih perempuan sekolah tinggi, ujungnya juga di dapur? Pernah dengar kalimat ini? Mirisnya, kalimat ini kerap kali digunakan untuk memadamkan cahaya perempuan yang fokus pada pendidikan mereka.
Saat perempuan ingin fokus mengejar pendidikan tinggi, seringkali orang-orang melontarkan kalimat itu, entah untuk basa-basi semata atau untuk menjaga pola pikir kolot mereka agar tetap lestari.
Faktanya, perempuan di Indonesia telah disetarakan dalam pendidikan dan karir seperti pria, tapi sayangnya masyarakat kebanyakan masih memandang kebebasan itu hanya sebatas formalitas semata.
Perempuan boleh sekolah tinggi, tapi jangan terlalu maju hingga bisa membuat pria menjadi minder atau takut.
Ironisnya, masyarakat sering kali bangga ketika anak perempuannya diterima di universitas ternama. Namun kebanggaan itu berubah menjadi kecemasan ketika perempuan tersebut mulai bersuara, berpendapat kritis, atau memiliki penghasilan lebih tinggi dari pasangannya.
Seolah-olah pendidikan hanya boleh menjadi pajangan prestise, bukan alat untuk berpikir merdeka.
Ketakutan terhadap perempuan yang “terlalu maju” sesungguhnya mencerminkan ketakutan akan perubahan relasi kuasa. Ketika perempuan mandiri secara finansial dan intelektual, mereka memiliki pilihan. Dan pilihan itulah yang kerap dianggap ancaman.
Mau sebanyak apapun perempuan berpendidikan tinggi yang berhasil membuktikan diri mereka, tetap saja statement semacam ini akan dilontarkan untuk mengingatkan perempuan akan “kodrat”-nya sebagai perempuan.
Di masyarakat, perempuan seringkali diikat dengan “kodrat” harus di dapur, perempuan yang tidak pandai di dapur dianggap gagal, tapi jika laki-laki fokus pada pendidikan dan tidak bisa di dapur, dimaklumi dan dianggap hal wajar. Padahal baik perempuan maupun laki-laki, seharusnya mereka pandai di dapur untuk membuat makanan yang merupakan basic dasar kehidupan yang harus dimiliki semua manusia.
Sudah saatnya kita berhenti membingkai pendidikan perempuan sebagai ancaman bagi laki-laki. Pendidikan seharusnya memperkuat masyarakat, bukan menciptakan persaingan ego.
Jika benar kita percaya pada kesetaraan, maka perempuan tidak hanya boleh sekolah tinggi, tetapi juga bebas menjadi maju tanpa harus mengecilkan diri demi kenyamanan orang lain.
Baca Juga: Cemerlang di Sekolah, Nol Besar di Masyarakat: Ada yang Salah dengan Cara Kita Belajar
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




