Suaraonline.com – Patriarki merupakan sistem sosial tua yang sampai saat ini masih digunakan beberapa orang. Bahkan, meski tak secara implisit mengatakan dirinya sebagai penganut sistem patriarki, banyak pria yang tanpa sadar mengadopsi nilai dan prinsip yang ada pada sistem tersebut.
Patriarki sendiri merupakan sistem sosial yang melekatkan pria sebagai puncak tertinggi dalam berbagai peran sosial di masyarakat. Contoh nyata dari nilai patriarki yang masih banyak tertinggal di masyarakat yaitu pria yang enggan membantu urusan domestik rumah tangga dengan dalih “itu kan tugasnya perempuan”, padahal memasak, membersihkan rumah, dan pekerjaan domestik rumah tangga merupakan basic skill hidup yang harus dimiliki manusia.
Sistem patriarki sendiri banyak ditentang dalam masyarakat, terutama oleh kaum feminis yang tak ingin perempuan hanya dipandang sebagai objek yang dapat dimarginalkan hingga mengalami kekerasan di publik hanya karena dianggap lebih rendah dari pria.
Dampak negatif sistem ini tentunya banyak memberikan kerugian pada perempuan, dalam skala kecil hingga besar. Salah satunya, perempuan hanya dianggap sebagai objek semata yang dibebankan dengan banyak tugas dan dipinggirkan dalam masyarakat.
Mirisnya, meski sistem ini merugikan perempuan, tidak jarang ada beberapa perempuan yang malah tanpa sengaja menjaga nilai-nilai patriarki tetap hidup dalam kesehariannya. Contohnya, seorang ibu yang mengajarkan anak perempuannya banyak pekerjaan rumah tangga, tetapi merasa tak perlu mengajarkan anak laki-lakinya pekerjaan rumah tangga dengan dalih “dia cowok”.
Anak perempuan dituntut untuk selalu menjaga dan merawat pria di dalam rumahnya, entah itu ayah, kakek, atau saudara laki-laki. Semua itu dijadikan seolah “tugas alami” jika kamu terlahir sebagai perempuan.
Saat acara keluarga, semua perempuan sibuk mengurus berbagai urusan, sedangkan pria di keluarga mereka hanya berkumpul di ruang tengah dan tertawa.
Jelas ini merupakan nilai patriarki yang masih sering lestari di rumah tangga banyak orang di Indonesia, menjadikan pria seolah pemegang kekuasaan dominan dan mengecilkan peran perempuan hanya sebatas pelengkap mereka.
Faktor utama seorang perempuan mendukung nilai ini tetap lestari biasanya disebabkan karena ia lahir di keluarga yang menganut sistem patriarki dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pola ini terasa familiar baginya dan membuatnya menganggap pola tersebut sebagai sesuatu yang baik dan benar. Ini bagai rantai mematikan yang terus turun-temurun diwariskan jika tidak segera diputus.
Untuk bisa meninggalkan nilai sistem patriarki yang nyaris mengakar di masyarakat, tentunya membutuhkan peran pemerintah dan masyarakat untuk secara bersama-sama mensosialisasikan dampak buruk sistem ini. Harapannya, agar dapat meminimalisir dampak buruk sistem patriarki bagi masyarakat dan perempuan.
Lebih lanjut, perempuan juga harus terus diberikan penyuluhan untuk memahami arti keberadaan mereka sebagai manusia utuh dan bukan objek pelengkap bagi kaum pria.
Patriarki tidak muncul dalam sekejap, sehingga nilai yang ada tidak bisa sepenuhnya langsung diberantas. Ia tumbuh perlahan, diwariskan lewat pola asuh, candaan, nasihat orang tua, bahkan lewat standar yang dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, membongkarnya pun tidak bisa instan.
Namun, dengan mengingatkan perempuan untuk tidak merugikan kaumnya sendiri dapat memberikan ruang kesadaran yang perlahan membesar. Dari kesadaran itulah lahir keberanian untuk berhenti menghakimi, berhenti membandingkan, dan berhenti melanggengkan standar ganda yang selama ini justru melukai sesama perempuan.
Perubahan memang tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau gerakan masif. Ia bisa bermula dari sikap kecil: tidak ikut menyalahkan korban, tidak meremehkan pilihan hidup perempuan lain, serta tidak membungkam suara yang berbeda hanya karena dianggap “tidak sesuai norma”.
Ketika perempuan saling menguatkan alih-alih saling menjatuhkan, fondasi patriarki perlahan akan retak. Sebab, sistem sebesar apa pun tak akan bertahan tanpa dukungan sosial yang terus memberinya napas.
Baca Juga: Dampak Patriarki Pada Pola Pikir Anak Laki-laki
Penulis: Annisa Adelina Sumadillah.




