Suaraonline.com – Di balik keramahan dan budaya gotong royong yang sering dibanggakan, ada beberapa kebiasaan buruk masyarakat Indonesia yang tanpa sadar terus dipelihara.
Kebiasaan ini dianggap sepele, bahkan lumrah, padahal dampaknya terasa dalam kehidupan sosial sehari-hari. Jika dibiarkan, ia bukan sekadar rutinitas, melainkan karakter kolektif yang sulit diubah.
1. Tidak Disiplin Waktu
Datang terlambat kerap dianggap hal biasa. Janjian pukul 10.00 bisa mundur menjadi 10.30 tanpa rasa bersalah. Padahal, kebiasaan buruk masyarakat Indonesia dalam hal disiplin waktu ini mencerminkan rendahnya penghargaan terhadap waktu orang lain.
2. Mengucapkan janji “InsyaAllah” Sebagai basa-basi untuk Menolak
Alih-alih menolak secara tegas, sebagian orang memilih mengatakan “insyaAllah” sebagai cara halus untuk menghindar.
Padahal, penggunaan kata tersebut seharusnya bernilai doa dan harapan, bukan sekadar tameng sosial untuk menyenangkan lawan bicara.
3. Makan Mie dengan Nasi
Karbohidrat bertemu karbohidrat sudah seperti tradisi. Makan mie instan terasa kurang lengkap jika tidak dipadukan dengan nasi.
Meski dianggap selera pribadi, pola ini mencerminkan kebiasaan konsumsi yang kurang memperhatikan keseimbangan gizi.
4. Tidak Pandai Menjaga Fasilitas Umum
Fasilitas umum sering kali tidak dijaga sebagaimana mestinya. Trotoar yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki justru dipakai pengendara motor untuk menghindari macet atau dipenuhi pedagang.
Ini menunjukkan kebiasaan buruk masyarakat Indonesia dalam memprioritaskan kenyamanan pribadi dibanding kepentingan bersama.
5. Lebih Suka menyoroti Orang-orang Bermasalah Ketimbang Orang Berprestasi
Kasus sensasional lebih cepat viral dibanding prestasi membanggakan. Orang yang bermasalah sering menjadi pusat perhatian, sementara mereka yang berprestasi justru tenggelam. Fenomena ini memperlihatkan kecenderungan sosial yang lebih menyukai drama daripada inspirasi.
Mengubah kebiasaan memang tidak mudah. Namun, menyadari bahwa kebiasaan buruk masyarakat Indonesia ini nyata dan berdampak adalah langkah awal untuk memperbaiki diri. Perubahan besar selalu dimulai dari kesediaan untuk mengoreksi hal-hal kecil yang selama ini dianggap wajar.
Baca Juga: Dampak Patriarki pada Pola Pikir Anak Perempuan
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




