Suara Online – Dulu, kabar pencurian atau penganiayaan terasa mengejutkan. Satu kasus bisa jadi pembicaraan berhari-hari.
Kini, berita tentang maling motor, jambret, begal, pencurian helm, hingga aksi kekerasan seperti lewat begitu saja di linimasa. Kita membaca, menggeleng, lalu menggulir layar lagi.
Kriminalitas seolah berubah menjadi “jajanan sehari-hari”. Hadir terus, dikonsumsi setiap hari, lalu dilupakan.
Fenomena ini bukan sekadar soal meningkat atau tidaknya angka kejahatan. Ada perubahan lain yang lebih mengkhawatirkan: kita mulai terbiasa.
Rasa kaget perlahan memudar. Yang dulu membuat takut, kini terasa seperti rutinitas informasi.
Di beberapa kota, laporan pencurian kendaraan bermotor hampir terdengar setiap pekan. Di sudut jalan, kasus jambret terjadi dalam hitungan detik.
Di lingkungan permukiman, kehilangan helm atau barang kecil sering dianggap “sudah biasa”. Ketika kejahatan menjadi hal lumrah, ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja.
Salah satu faktor yang mendorong kondisi ini adalah tekanan ekonomi. Ketimpangan sosial, sulitnya lapangan kerja, dan kebutuhan hidup yang terus meningkat bisa menjadi latar belakang seseorang mengambil jalan yang salah. Meski bukan pembenaran, realitas ini tidak bisa diabaikan.
Selain itu, pengawasan lingkungan yang lemah juga memberi ruang bagi pelaku kejahatan.
Minimnya keamanan terpadu, kurangnya kamera pengawas, serta rendahnya kepedulian kolektif membuat kesempatan terbuka lebar.
Namun ada sisi lain yang lebih dalam: desensitisasi sosial. Ketika setiap hari kita terpapar berita kriminal melalui media dan media sosial, empati bisa terkikis. Kita terbiasa melihat korban, tetapi tidak lagi benar-benar merasakan urgensinya.
Kalimat seperti “yang penting bukan kita” atau “sudah biasa di kota besar” menjadi tanda bahwa rasa aman perlahan digantikan dengan sikap pasrah.
Padahal, rasa aman adalah fondasi kehidupan sosial. Tanpa rasa aman, produktivitas terganggu.
Orang pulang kerja dengan waswas. Orang tua khawatir melepas anaknya keluar rumah. Masyarakat menjadi lebih curiga satu sama lain.
Kriminalitas yang dianggap “jajanan sehari-hari” juga berpotensi menciptakan lingkaran setan.
Ketika pelaku melihat kejahatan sering terjadi dan seolah biasa saja, hambatan psikologis untuk melakukan tindakan serupa bisa menurun. Normalisasi adalah bahaya yang tak terlihat.
Lalu apa yang bisa dilakukan?
Penanganan kejahatan tentu membutuhkan peran aparat penegak hukum yang tegas dan konsisten.
Namun pencegahan tidak berhenti di sana. Penguatan ekonomi, pendidikan karakter, kepedulian lingkungan, serta sistem keamanan terpadu menjadi bagian dari solusi jangka panjang.
Yang paling penting, kita tidak boleh terbiasa. Tidak boleh menganggap kriminalitas sebagai tontonan harian yang sekadar lewat di layar. Setiap kasus adalah manusia, adalah korban, adalah rasa aman yang direnggut.
Karena ketika kejahatan sudah terasa biasa, yang sedang terancam bukan hanya barang yang hilang, tetapi juga kualitas hidup dan kepercayaan sosial kita sebagai masyarakat.
Baca Juga : Tipe-Tipe Pemimpin yang Disukai Masyarakat Indonesia




