Suaraonline.com – Ada momen ketika seseorang menerima pujian atas pekerjaannya, tetapi alih-alih bangga, yang muncul justru rasa takut. Takut dianggap tidak sepintar yang terlihat.
Takut suatu hari semua orang sadar bahwa keberhasilan itu hanya kebetulan. Jika itu sering terjadi, besar kemungkinan yang sedang dialami adalah impostor syndrome.
Pengertian Impostor Syndrome
Impostor syndrome adalah pola pikir ketika pencapaian yang sudah jelas terasa seperti hasil keberuntungan semata. Di dunia kerja modern yang penuh laporan kinerja, target kuartalan, dan pencapaian yang dipamerkan di media sosial profesional, tekanan untuk terlihat kompeten sangat kuat.
Setiap kali melihat rekan kerja mendapatkan promosi atau mengunggah sertifikat baru, pikiran mulai membandingkan. Rasanya seperti semua orang lebih siap, lebih cerdas, dan lebih layak berada di posisi mereka.
Masalahnya bukan pada kemampuan, melainkan pada cara menilai diri sendiri. Kesalahan kecil dianggap bukti bahwa diri ini tidak pantas.
Sementara keberhasilan dianggap faktor eksternal: timing yang pas, bantuan tim, atau sekadar keberuntungan.
Pola ini membuat seseorang bekerja dalam mode waspada terus-menerus. Setiap tugas terasa seperti ujian. Setiap evaluasi terasa seperti ancaman.
Dalam kondisi seperti itu, tubuh ikut bereaksi. Jantung berdebar sebelum presentasi. Sulit tidur sebelum rapat penting. Pikiran berulang kali memutar kemungkinan terburuk.
Padahal, fakta sering kali menunjukkan hal berbeda: lolos seleksi, dipercaya memimpin proyek, atau menerima umpan balik positif dari klien. Fakta dan persepsi berjalan di jalur yang berbeda.
Cara Mengatasinya di Dunia Kerja Modern
Untuk memutus pola ini, langkah pertama adalah memisahkan opini dari fakta. Tuliskan pencapaian secara konkret: proyek apa yang selesai tepat waktu, masalah apa yang berhasil diselesaikan, dan kontribusi apa yang diberikan pada tim. Ketika rasa ragu muncul, daftar itu menjadi pengingat bahwa posisi saat ini bukan hasil kebetulan.
Langkah berikutnya adalah mengubah cara berbicara pada diri sendiri. Alih-alih berkata, “aku cuma beruntung,” ubah menjadi, “ada usaha dan proses di balik hasil ini.” Bahasa internal membentuk keyakinan. Jika setiap keberhasilan diremehkan, otak akan terus memperkuat narasi tidak layak. Sebaliknya, pengakuan yang jujur terhadap kerja keras membantu menyeimbangkan perspektif.
Lingkungan juga berpengaruh besar. Terlalu sering membandingkan diri dengan sorotan terbaik orang lain hanya memperbesar rasa tidak cukup. Membatasi konsumsi konten yang memicu perbandingan bisa membantu menjaga fokus. Energi sebaiknya diarahkan pada perkembangan pribadi, bukan pada standar yang dibangun dari potongan pencapaian orang lain.
Yang perlu dipahami, impostor syndrome tidak selalu hilang sepenuhnya. Bahkan profesional berpengalaman pun bisa mengalaminya saat memasuki tanggung jawab baru. Namun, rasa ragu tidak harus mengendalikan tindakan. Tetap melangkah meski ada kecemasan adalah cara membuktikan bahwa pikiran negatif tidak selalu benar.
Jika saat ini kamu sering merasa seperti “penipu” di tempat kerja, berhenti sejenak dan lihat kembali perjalanan yang sudah dilalui. Tidak ada perusahaan yang mempertahankan seseorang tanpa alasan. Tidak ada tanggung jawab besar yang diberikan tanpa pertimbangan. Posisi yang dijalani hari ini adalah hasil proses, bukan kebetulan acak.
Menerima bahwa diri masih belajar bukan berarti tidak layak. Justru kesadaran itu menunjukkan kedewasaan. Dunia kerja modern memang kompetitif, tetapi kompetensi tidak diukur dari absennya rasa takut. Kompetensi terlihat dari kemampuan tetap bergerak, tetap belajar, dan tetap bertumbuh meski ada keraguan di dalam kepala.
Baca Juga: Overthinking: Penyebab dan Cara Menghentikannya
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




