Suaraonline.com – High functioning anxiety menggambarkan kondisi ketika seseorang tetap produktif dan berprestasi, tetapi hidup dalam tekanan internal yang konstan di dalam dirinya.
Di mata orang lain, semuanya terlihat terkendali. Target tercapai, jadwal tertata, tanggung jawab tidak pernah terlewat. Namun di balik performa yang stabil, ada ketegangan yang terus bergerak diam-diam.
High Functioning Anxiety
High functioning anxiety sering sulit dikenali karena tidak mengganggu fungsi luar secara langsung. Kamu tetap datang tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan, bahkan tampil percaya diri saat presentasi. Namun di balik itu, pikiran terus dipenuhi kekhawatiran, takut mengecewakan, takut melakukan kesalahan kecil, takut dinilai tidak kompeten.
Berbeda dengan kecemasan yang membuat seseorang menghindari tugas, high functioning anxiety justru mendorong kerja berlebihan. Dorongan untuk selalu sempurna muncul dari ketakutan, bukan semata ambisi sehat. Setiap detail diperiksa berulang kali. Setiap kritik kecil dipikirkan berhari-hari. Istirahat terasa seperti kemunduran, bukan kebutuhan.
Gejalanya sering muncul secara fisik dan emosional. Sulit rileks meski pekerjaan selesai, gangguan tidur karena memikirkan agenda esok hari, atau rasa bersalah saat tidak produktif. Kamu mungkin terlihat tenang dalam rapat, tetapi di dalam kepala, skenario kesalahan terus berputar. Tubuh tetap siaga meski ancaman tidak nyata.
Salah satu akar kondisi ini adalah standar diri yang terlalu tinggi. Lingkungan yang menghargai performa tanpa memberi ruang untuk gagal memperkuat pola tersebut. Validasi eksternal menjadi bahan bakar utama. Ketika pujian datang, rasa lega hanya bertahan sebentar sebelum digantikan ketakutan baru akan ekspektasi berikutnya.
Dalam jangka panjang, pola ini berisiko mengarah pada kelelahan mental. Energi terkuras untuk mempertahankan citra stabil, sementara kebutuhan emosional diabaikan. Kamu mungkin sulit menikmati pencapaian karena pikiran langsung berpindah ke target selanjutnya.
Mengelola high functioning anxiety membutuhkan perubahan cara pandang terhadap produktivitas. Nilai diri tidak boleh semata diukur dari hasil kerja. Mengakui batas kemampuan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kesadaran diri. Memberi ruang untuk kesalahan kecil membantu menurunkan tekanan internal yang tidak realistis.
Membangun rutinitas pemulihan juga penting. Aktivitas tanpa tuntutan hasil, seperti olahraga ringan atau waktu tanpa gawai, membantu sistem saraf keluar dari mode siaga. Latihan pernapasan atau refleksi singkat sebelum tidur dapat menenangkan pikiran yang terus aktif.
Komunikasi terbuka dengan orang terpercaya juga membantu memecah ilusi bahwa semuanya harus terlihat sempurna. Ketika tekanan dibagikan, beban emosional berkurang. Dukungan sosial memperkuat perspektif bahwa kegagalan sesekali bukan ancaman identitas.
High functioning anxiety menunjukkan bahwa performa luar tidak selalu mencerminkan kondisi batin. Mengabaikannya hanya memperpanjang siklus tekanan.
Ketika kamu mulai memberi nilai pada keseimbangan, bukan sekadar pencapaian, produktivitas bisa tetap terjaga tanpa mengorbankan kesehatan mental. Ketenangan bukan musuh ambisi, melainkan fondasi agar perjalanan tetap berkelanjutan.
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




