Suaraonline.com – Fenomena comparison syndrome, kondisi ketika perbandingan terus-menerus merusak persepsi diri dan kesejahteraan mental.
Terlebih lagi di zaman media sosial, setiap momen kebahagiaan orang lain mudah terlihat. Liburan mewah, promosi karier, pencapaian hobi, semua dipamerkan dengan foto, cerita, atau status singkat. Tak jarang, melihat itu membuat kamu merasa tertinggal, kurang, atau tidak cukup baik.
Comparison Syndrome di Era Media Sosial
Comparison syndrome bukan sekadar membandingkan prestasi. Di era media sosial, perbandingan menjadi hampir otomatis. Pikiran membandingkan diri dengan versi terbaik orang lain yang diposting di layar. Padahal, feed hanya menampilkan highlight, bukan proses, kegagalan, atau perjuangan yang sebenarnya. Akibatnya, standar yang dijadikan tolok ukur menjadi tidak realistis.
Gejala yang muncul bisa berbeda-beda. Secara emosional, muncul rasa iri, cemas, atau sedih ketika melihat pencapaian orang lain. Secara psikologis, muncul perasaan tidak cukup, bahkan jika pencapaian pribadi sudah nyata. Pikiran yang terus membandingkan ini bisa menimbulkan stres, menurunkan kepercayaan diri, dan memicu keraguan berlebihan pada keputusan sendiri.
Media sosial memicu pola ini karena sifatnya yang instan dan visual. Postingan dikurasi sedemikian rupa sehingga menampilkan momen terbaik. Tanpa disadari, otak mulai menilai pencapaian orang lain sebagai standar mutlak. Interaksi yang seharusnya menyenangkan justru berubah menjadi alat pengukur diri yang menekan.
Dampak jangka panjang bisa serius. Comparison syndrome meningkatkan risiko burnout mental karena energi emosional terus terkuras untuk menilai diri sendiri. Produktivitas menurun karena pikiran lebih banyak fokus pada orang lain daripada pada target pribadi. Bahkan hubungan sosial bisa terganggu karena perasaan cemburu atau iri memengaruhi komunikasi dan interaksi.
Solusi menghadapi comparison syndrome memerlukan kesadaran dan strategi. Pertama, kurangi konsumsi konten yang memicu perbandingan berlebihan. Batasi waktu scrolling media sosial dan pilih akun yang memberi inspirasi, bukan tekanan. Kedua, fokus pada pencapaian pribadi. Menuliskan kemajuan kecil setiap hari membantu memperkuat rasa percaya diri yang nyata dan konkret.
Latihan self-compassion juga penting. Memahami bahwa setiap orang memiliki ritme, perjuangan, dan konteks hidup berbeda membuat perbandingan menjadi kurang relevan. Kesuksesan orang lain bukan pengukur kegagalan sendiri. Fokus pada perjalanan pribadi membantu mengubah perspektif dari iri menjadi termotivasi.
Lingkungan offline juga berperan. Diskusi sehat dengan teman atau mentor bisa memberi perspektif realistis tentang pencapaian. Saat mengetahui bahwa setiap orang menghadapi tantangan yang tidak terlihat, tekanan internal berkurang. Dengan begitu, media sosial dapat dinikmati sebagai sumber inspirasi, bukan sumber perasaan kurang.
Comparison syndrome di era media sosial menunjukkan bagaimana kemajuan teknologi bisa memengaruhi kesehatan mental. Tanpa kesadaran, perbandingan terus-menerus bisa merusak persepsi diri. Ketika batas, fokus, dan perspektif dipulihkan, media sosial bisa menjadi alat yang mendukung pertumbuhan, bukan ancaman bagi kesejahteraan emosional.
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




