Suaraonline.com – Rejection sensitivity merupakan kondisi yang membuat seseorang lebih sensitif terhadap penolakan atau penilaian negatif, sampai memengaruhi cara berpikir, merasa, dan bertindak setiap hari.
Pernah ngalamin hal ini, misalnya kamu merasa sedih, cemas, atau marah berlebihan hanya karena dikritik sedikit atau tidak diperhatikan oleh orang lain? Kalau iya, besar kemungkinan kamu mengalami rejection sensitivity.
Tips Mengelola Rejection Sensitivity
Rejection sensitivity bukan cuma “mudah tersinggung.” Orang yang mengalaminya sering merespons penolakan kecil dengan intensitas emosional tinggi.
Misalnya, pesan teman yang lambat dibalas bisa terasa seperti diabaikan. Atau komentar ringan di kantor terasa seperti penilaian total atas kemampuan diri. Reaksi seperti ini bisa bikin stres dan kelelahan mental, karena otak selalu “siaga” menghadapi penolakan.
Penyebabnya beragam. Pengalaman masa kecil, seperti sering dikritik, diabaikan, atau dibully, bisa membuat seseorang belajar waspada berlebihan.
Faktor biologis juga berperan, misalnya cara otak memproses stres dan emosi. Lingkungan sosial modern, termasuk tekanan media sosial, menuntut kita selalu tampil “sempurna,” yang memperkuat rasa takut ditolak.
Dampaknya tidak main-main. Rejection sensitivity bisa merusak hubungan dengan teman, keluarga, atau rekan kerja. Kamu mungkin jadi defensif, mudah marah, atau menghindari interaksi sosial.
Selain itu, tekanan internal ini bisa menurunkan kepercayaan diri, meningkatkan kecemasan, dan memengaruhi kesehatan mental jangka panjang.
Mengelola emosi akibat rejection sensitivity butuh beberapa strategi. Pertama, kenali pola pikir negatif. Ketika merasa ditolak, hentikan sejenak reaksi otomatis. Tanyakan pada diri sendiri, apakah ini benar-benar penolakan, atau cuma persepsi yang dibesar-besarkan oleh pikiran?
Kedua, praktikkan self-compassion. Alih-alih menyalahkan diri sendiri, akui bahwa merasa kecewa atau cemas itu wajar. Memberi ruang pada emosi tanpa menghakimi diri sendiri akan menurunkan intensitas perasaan negatif.
Ketiga, komunikasikan perasaan dengan jelas. Jika merasa tersinggung atau cemas, ungkapkan secara tenang pada orang yang bersangkutan. Ini mencegah asumsi keliru yang bisa memperbesar emosi negatif.
Keempat, gunakan teknik coping seperti menulis jurnal, olahraga ringan, meditasi, atau hobi menenangkan. Teknik pernapasan atau mindfulness juga efektif menenangkan reaksi fisik dan mental saat menghadapi situasi yang memicu rejection sensitivity.
Yang perlu diingat, rejection sensitivity bukan sesuatu yang harus dihilangkan sepenuhnya. Banyak orang profesional pun mengalaminya, terutama saat menghadapi tantangan baru. Yang penting adalah belajar mengelola respons emosi agar tidak menguasai hidup.
Dengan kesadaran, latihan, dan strategi tepat, kamu bisa tetap membangun hubungan sehat, bekerja dengan tenang, dan menjaga kesejahteraan mental meski menghadapi kritik atau penolakan.
Baca Juga: Overthinking Disorder dan Dampaknya pada Kesehatan Mental
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




