Suaraonline.com – Workaholic syndrome merupakan kondisi yang bukan hanya sekadar “suka kerja”, tapi dorongan untuk terus bekerja sampai mengabaikan istirahat, kesehatan, dan kehidupan pribadi.
Di dunia kerja modern, banyak orang merasa bangga bisa bekerja nonstop dan menyelesaikan banyak tugas. Tanpa disadari, workaholic syndrome bisa membawa risiko serius bagi tubuh dan mental.
Risiko Jangka Panjang Workaholic Syndrome
Tanda-tanda awal workaholic syndrome bisa terlihat sederhana, tapi efeknya kompleks. Kamu mungkin merasa sulit berhenti bekerja, selalu memikirkan pekerjaan di luar jam kerja, dan sulit menikmati waktu luang. Bahkan saat sakit atau lelah, dorongan untuk tetap produktif tetap terasa. Pola pikir ini membuat tubuh dan otak bekerja terus-menerus tanpa jeda.
Penyebab workaholic syndrome beragam. Tekanan dari lingkungan kerja, target tinggi, dan budaya produktivitas ekstrem membuat seseorang merasa harus selalu “on” dan tidak boleh kalah dari rekan kerja.
Faktor pribadi juga berperan, seperti perfeksionisme, rasa takut gagal, atau keinginan untuk mendapat pengakuan dan status melalui prestasi. Media sosial yang menampilkan pencapaian orang lain juga bisa memperkuat rasa harus selalu produktif.
Dampak jangka panjang dari workaholic syndrome bisa serius. Secara fisik, tubuh mudah kelelahan, sistem imun melemah, dan risiko penyakit jantung meningkat. Masalah tidur sering muncul karena otak terus “siaga” meski sudah malam.
Secara mental, workaholic syndrome meningkatkan risiko stres kronis, kecemasan, dan depresi. Hubungan sosial juga bisa terganggu karena waktu untuk keluarga dan teman sangat terbatas.
Tips Mengurangi Workaholic Syndrome
Tips mengurangi workaholic syndrome, langkah pertama adalah mengenali batas diri. Catat kapan kamu mulai merasa lelah atau kehilangan fokus, dan gunakan itu sebagai tanda untuk berhenti sejenak. Memberikan jeda pada diri sendiri bukan tanda malas, tapi cara menjaga kesehatan jangka panjang.
Langkah berikutnya adalah manajemen waktu yang efektif. Pisahkan waktu kerja dan waktu pribadi secara jelas. Misalnya, tentukan jam tertentu untuk menutup email, berhenti memeriksa chat kantor, dan fokus pada kegiatan offline atau hobi. Aktivitas ini membantu otak dan tubuh pulih dari tekanan kerja.
Selain itu, penting untuk membangun pola pikir sehat terhadap produktivitas. Alih-alih menilai diri hanya dari pencapaian, akui juga usaha dan proses yang telah dilakukan. Bersikap realistis terhadap target, menerima bahwa tidak semua hal bisa sempurna, dan memberi ruang bagi kesalahan akan mengurangi tekanan internal yang memicu workaholic syndrome.
Terakhir, jangan ragu meminta dukungan. Bicarakan dengan atasan atau teman kerja tentang beban kerja, atau konsultasi dengan profesional jika stres dan kelelahan terasa berat. Mengelola workaholic syndrome adalah soal keseimbangan, produktif tapi tetap menjaga kesehatan fisik, mental, dan sosial.
Workaholic syndrome memang terlihat seperti prestasi, tapi jika dibiarkan, risiko jangka panjangnya bisa merusak hidup kamu. Mengenali tanda, mengatur waktu, dan memberi ruang untuk istirahat adalah langkah penting agar kamu tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan. Ingat, tubuh dan pikiranmu sama berharganya dengan pekerjaan yang kamu lakukan.
Baca Juga: Tips Mengelola Rejection Sensitivity
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




