Suaraonline.com – Ghosting anxiety merupakan kondisi dimana kamu merasa cemas akibat ketidakpastian dalam hubungan dan orang tersebut tiba-tiba “menghilang” tanpa alasan jelas.
Fenomena ini biasanya terjadi jika tiba-tiba orang yang intens berkomunikasi seperti pasangan, teman, atau orang dekat menghilang tanpa kabar, tidak ada pesan, telepon, atau penjelasan, seakan mereka menghilang begitu saja.
Ghosting Anxiety di Hubungan Modern
Dampak Ghosting Anxiety bisa terlihat jadi kamu sering merasa gelisah ketika menunggu balasan pesan, terlalu memikirkan setiap kata atau tindakan orang lain, atau terus membayangkan alasan mereka pergi.
Beberapa orang bahkan mulai meragukan diri sendiri, merasa tidak cukup baik, atau takut ditinggalkan lagi. Dalam kasus yang lebih berat, ghosting anxiety bisa membuat seseorang sulit mempercayai orang baru dan selalu bersiap untuk kemungkinan ditinggalkan.
Penyebab ghosting anxiety biasanya berkaitan dengan pengalaman hubungan sebelumnya. Trauma emosional dari ditinggalkan secara tiba-tiba atau ghosting di masa lalu bisa membuat otak “terprogram” untuk waspada terhadap tanda-tanda hilangnya perhatian.
Media sosial dan komunikasi digital juga memperkuat kondisi ini. Notifikasi yang lambat dibalas, online status yang berubah, atau ketidakhadiran orang lain di chat dapat memicu kecemasan berlebih.
Dampak ghosting anxiety tidak hanya emosional, tetapi juga fisik dan sosial. Secara emosional, kamu bisa merasa sedih, cemas, dan mudah tersinggung. Secara fisik, kecemasan ini bisa menyebabkan susah tidur, tegang otot, atau sakit kepala.
Dalam hubungan sosial, ghosting anxiety bisa membuatmu menarik diri, menghindari interaksi, atau terus memeriksa pesan dan media sosial, sehingga mengganggu kualitas hidup sehari-hari.
Tips Mengatasi Ghosting Anxiety
Untuk mengatasi ghosting anxiety, langkah pertama adalah menyadari pola ini. Memahami bahwa rasa cemas muncul karena pengalaman masa lalu dan bukan sepenuhnya karena dirimu sendiri membantu mengurangi rasa bersalah dan tekanan internal.
Langkah berikutnya adalah menetapkan batasan yang sehat dalam komunikasi digital. Misalnya, jangan terlalu sering memeriksa ponsel atau menunggu balasan secara berlebihan. Memberi jarak secara sadar dapat membantu menenangkan pikiran dan mengurangi kecemasan.
Selain itu, penting untuk berbicara terbuka dengan pasangan atau teman tentang perasaan dan kebutuhan emosional. Transparansi dalam hubungan modern membantu mengurangi ketidakpastian yang menjadi pemicu ghosting anxiety.
Jika kecemasan terasa berat, konsultasi dengan profesional seperti psikolog dapat membantu memahami akar trauma, melatih teknik coping, dan membangun kepercayaan diri dalam hubungan.
Ghosting anxiety memang wajar terjadi di era digital, di mana komunikasi bisa terputus tanpa alasan jelas. Namun, dengan kesadaran, batasan yang sehat, dan dukungan emosional, seseorang bisa belajar untuk menenangkan pikiran, menjaga hubungan yang sehat, dan tetap merasa aman meski menghadapi ketidakpastian.
Baca Juga: Hyper Independence Trauma Response, Apa Penyebabnya?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




