Suaraonline.com – Self sabotage behavior sebenarnya pasti pernah atau sesekali kita alami, hanya saja banyak orang yang tidak sadar.
Kamu pasti setuju jika sukses membutuhkan perjuangan yang gigih, tapi bukannya segera bangkit dari kasur kamu malah memilih untuk menunda tugas penting, meremehkan kemampuan sendiri, atau mengambil keputusan yang bikin peluang hilang. Fenomena ini disebut self sabotage behavior.
Self Sabotage Behavior yang Mempengaruhi Pola Bawah Sadar
Self sabotage terjadi ketika seseorang secara tidak sadar menghalangi diri sendiri untuk mencapai tujuan. Pola ini biasanya muncul dari keyakinan bawah sadar yang tertanam sejak lama, seperti rasa takut gagal, takut ditolak, atau merasa tidak pantas berhasil.
Kabar buruknya, otak kita seringkai “menyabot” kesuksesan untuk menjaga rasa aman meski sebenarnya itu justru menghambat pertumbuhan pribadi.
Tanda-tanda self sabotage bisa berbeda-beda. Kamu mungkin sering menunda pekerjaan atau proyek penting, meremehkan pencapaian diri, atau selalu merasa keberhasilanmu tidak sebanding dengan usaha.
Beberapa orang bahkan memilih hubungan atau situasi yang membatasi diri mereka, walaupun sadar ingin lebih maju. Ini terjadi karena pola bawah sadar memberi “alarm palsu” bahwa perubahan atau keberhasilan membawa risiko.
Pola ini kerap muncul dari pengalaman masa lalu. Misalnya, kritik berlebihan saat kecil, pengalaman gagal yang menyakitkan, atau trauma emosional tertentu. Seiring waktu, otak mengasosiasikan kesuksesan dengan ketidaknyamanan atau bahkan bahaya, sehingga muncul kebiasaan menghalangi diri sendiri.
Media sosial dan standar kesempurnaan modern juga memperkuat perasaan ini, membuat seseorang merasa tidak cukup atau harus menunda langkah karena takut dibandingkan dengan orang lain.
Dampak self sabotage tidak hanya emosional, tapi juga praktis. Kamu bisa kehilangan peluang karier, hubungan, atau perkembangan pribadi. Selain itu, muncul rasa frustrasi, rendah diri, dan stres yang berulang karena otakmu sadar ingin maju, tapi tindakan bawah sadar selalu menahan.
Tips Mengurangi Self Sabotage Behavior
Untuk mengatasi self sabotage, langkah pertama adalah mengenali pola perilaku yang merugikan diri sendiri. Catat situasi atau keputusan yang sering membuatmu gagal atau menunda tujuan. Menjadi sadar adalah langkah awal untuk menghentikan siklus ini.
Selanjutnya, ubah dialog internal. Alih-alih berkata, “aku pasti gagal,” ubah menjadi, “aku sedang belajar, dan setiap langkah kecil berarti.” Pola pikir ini membantu otak menyesuaikan respons bawah sadar dengan lebih positif.
Langkah lain yang efektif adalah membagi tujuan besar menjadi langkah kecil dan terukur. Dengan fokus pada satu langkah kecil, risiko self sabotage berkurang karena otak tidak merasa kewalahan atau terancam. Dukungan dari teman atau mentor juga penting untuk memberi perspektif luar yang objektif dan membantu memvalidasi pencapaianmu.
Dengan kesadaran, latihan mengubah pola pikir, dan strategi praktis, kamu bisa mulai menenangkan pola bawah sadar, membuka peluang kesuksesan, dan memberi diri sendiri ruang untuk berkembang.
Baca Juga: Attention Residue Akibat Multitasking: Bagaimana Cara Menguranginya?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




