Suara Online – Banyak yang bilang Gen Z adalah generasi paling kritis, paling melek isu, tapi anehnya mereka justru yang paling jauh dari dunia politik. Fenomena ini sering bikin bingung: gimana mungkin generasi yang aktif di media sosial, vokal tentang isu sosial, dan peduli keadilan malah enggan ikut dalam ruang politik formal?
Jawabannya, ternyata nggak sesederhana “mereka apatis.” Gen Z bukan nggak peduli mereka cuma belum menemukan alasan untuk percaya.
1. Krisis kepercayaan yang makin dalam
Selama beberapa tahun terakhir, kepercayaan publik terhadap institusi politik di Indonesia menurun drastis. Banyak anak muda merasa dunia politik cuma permainan elit yang jauh dari kebutuhan rakyat. Fenomena distrust dan skeptisisme ini tumbuh karena terlalu sering melihat janji yang nggak ditepati, drama kekuasaan, atau kasus korupsi yang terus berulang. Akibatnya, dunia politik jadi terlihat seperti panggung yang penuh topeng, bukan tempat memperjuangkan nilai.
2. Politik terasa nggak relevan dengan kehidupan mereka
Bagi banyak Gen Z, politik jarang hadir dalam bentuk yang menyentuh kehidupan nyata. Mereka lebih dekat dengan isu-isu seperti krisis iklim, kesehatan mental, dan kesetaraan gender hal-hal yang jarang disentuh serius oleh pejabat publik. Ketika kebijakan yang dibuat nggak terasa dampaknya, mereka jadi merasa: “ngapain ikut dunia politik, toh nggak ada perubahan juga.”
Kurangnya representasi anak muda dalam posisi pengambil keputusan juga bikin jarak makin lebar. Politik terlihat tua, kaku, dan formal jauh dari gaya komunikasi Gen Z yang spontan dan digital.
3. Overload informasi dan lelah dengan drama politik
Di era digital, Gen Z tumbuh di tengah ledakan informasi. Setiap hari mereka disuguhi ribuan konten politik, mulai dari berita hingga debat panas di media sosial. Tapi alih-alih tercerahkan, banyak dari mereka justru merasa jenuh dan lelah. Ketika politik terlalu sering jadi ajang saling serang, wajar kalau akhirnya mereka memilih mundur dan fokus ke hal yang lebih produktif.
4. Politik gagal beradaptasi dengan gaya komunikasi Gen Z
Banyak politisi masih menggunakan pola komunikasi publik yang kaku, penuh jargon, dan kurang membumi. Padahal, Gen Z lebih percaya pada bahasa yang jujur, personal, dan visual. Mereka lebih mudah memahami isu lewat video pendek, thread Twitter, atau infografis ketimbang pidato panjang.
Kalau politik ingin dekat dengan Gen Z, maka harus berani rebranding: ubah cara bicara, ubah cara tampil. Di sinilah pentingnya branding dunia politik yang segar bukan sekadar pencitraan, tapi upaya tulus untuk menjembatani generasi.
5. Minimnya edukasi politik sejak dini
Salah satu akar masalah terbesar adalah kurangnya edukasi politik yang menarik di sekolah atau ruang publik. Banyak anak muda tumbuh tanpa benar-benar paham gimana sistem politik bekerja, gimana suara mereka bisa memengaruhi kebijakan, atau gimana caranya ikut terlibat tanpa harus jadi politisi.
Akibatnya, partisipasi politik mereka terbatas hanya sebatas memilih saat pemilu, tanpa kesadaran bahwa ikut diskusi publik, advokasi isu, atau kampanye sosial juga bagian dari politik.
6. Politik harus berubah dulu, baru Gen Z mau terlibat
Kita sering minta anak muda peduli politik, tapi jarang bertanya apakah politik sudah cukup peduli pada mereka? Selama politik masih sibuk dengan kekuasaan dan citra, Gen Z akan tetap menjauh. Mereka butuh keaslian, transparansi, dan ruang untuk didengar.
Generasi ini punya energi besar untuk perubahan. Tapi kalau politik terus gagal membangun kepercayaan publik, mereka akan mencari cara lain untuk berkontribusi lewat komunitas, gerakan sosial, atau konten digital.
Gen Z bukan generasi yang apatis. Mereka cuma generasi yang lebih selektif. Mereka nggak mau percaya buta, tapi mau ikut kalau diajak dengan cara yang jujur dan relevan. Jadi, kalau dunia politik ingin kembali punya tempat di hati Gen Z, mulailah dari sini berhenti bicara soal kekuasaan, dan mulai bicara soal kehidupan.




