Suaraonline.com – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar global, Senin (2/3/2026). Serangan saling balas antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak hanya memicu korban jiwa, tetapi juga berdampak langsung pada stabilitas energi dunia.
Penutupan jalur vital perdagangan minyak di Selat Hormuz membuat harga minyak dan gas melonjak tajam, sementara pasar keuangan internasional bergejolak.
Dilansir dari website Alazeera, Iran dilaporkan telah menyerang infrastruktur energi di kawasan Teluk, termasuk fasilitas gas alam cair milik Qatar yang terpaksa menghentikan produksi setelah dua lokasinya terdampak serangan.
Di saat yang sama, Iran terus melancarkan serangan ke berbagai wilayah Israel. Militer Israel menyatakan telah mencegat sejumlah rudal di Yerusalem Barat, Tel Aviv, dan Eilat, sementara sedikitnya 10 orang dilaporkan tewas sejak Sabtu.
Konflik memanas setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran menewaskan sejumlah tokoh penting negara tersebut. Dampaknya segera terasa di pasar energi global. Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 6 persen akibat kekhawatiran gangguan pasokan.
Situasi semakin genting setelah pejabat senior Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan penutupan Selat Hormuz dan Iran siap menembak kapal apa pun yang mencoba melintas. Ancaman ini meningkatkan kekhawatiran gangguan seperlima aliran minyak dunia.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur strategis yang menyalurkan sekitar 17 juta barel minyak mentah per hari atau hampir 20 persen dari total produksi global.
Kondisi ini memicu lonjakan harga energi sekaligus tekanan pada pasar saham di Eropa dan Asia. Investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan emas.
Jika gangguan berlangsung lama atau infrastruktur energi di negara Teluk lain turut terdampak, risiko inflasi global diperkirakan semakin meningkat.
Konflik yang awalnya bersifat militer kini menjelma menjadi krisis ekonomi yang berpotensi memengaruhi berbagai negara, termasuk yang bergantung pada impor energi seperti Indonesia.
Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga emas, seiring meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




