Suaraonline.com – Attention residue merupakan fenomena dimana masih ada sisa perhatian dari tugas sebelumnya saat kamu pindah ke tugas baru.
Contohnya, saat kamu ngerjain banyak, seperti membalas chat, ngerjain tugas kantor, sambil dengerin musik, dalam satu waktu. Perhatianmu jadi berpindah-pindah dari dengerin lagu, terus ngetik dan lainnya. Semua tugas jadi berjalan setengah-setengah.
Cara Mengurangi Attention Residue
Multitasking yang berlebihan membuat energi mental cepat habis, sehingga kamu sering merasa lelah dan stres.
Yang akan kamu rasakan yaitu susah fokus, gampang terdistraksi, atau kerjaan jadi lambat selesai. Bahkan ketika berpindah ke tugas baru, pikiran masih “nempel” di tugas sebelumnya, membuat otak nggak bisa sepenuhnya konsentrasi.
Attention residue muncul karena otak manusia tidak benar-benar bisa membagi fokus secara sempurna. Ketika berpindah dari satu tugas ke tugas lain tanpa jeda, sebagian perhatian masih tertinggal di pekerjaan sebelumnya.
Misalnya, setelah membalas email penting, kamu langsung ikut rapat tanpa jeda, tapi pikiranmu masih memikirkan email tadi. Efeknya, kamu tidak fokus sepenuhnya di rapat, dan produktivitas menurun.
Dampak jangka panjang dari attention residue bisa signifikan, seperti menurunkan kualitas pekerjaan, meningkatkan stres, kelelahan mental, dan membuat seseorang rentan terhadap burnout. Selain itu, hubungan sosial juga bisa terganggu karena kamu sulit hadir sepenuhnya ketika berbicara dengan orang lain.
Untuk mengurangi attention residue, langkah pertama adalah memprioritaskan satu tugas dalam satu waktu. Fokus sepenuhnya pada satu hal sebelum berpindah ke hal lain membantu otak menyelesaikan proses kognitif dengan lebih efisien.
Langkah berikutnya adalah memberi jeda antar tugas. Bahkan beberapa menit istirahat atau menarik napas dalam-dalam sebelum pindah tugas baru bisa membantu “membersihkan meja belajar” otak. Jeda ini membuat sisa perhatian dari tugas sebelumnya tidak terbawa ke pekerjaan berikutnya.
Selain itu, mengatur lingkungan kerja juga penting. Matikan notifikasi yang tidak penting, siapkan alat atau dokumen yang dibutuhkan sebelum memulai, dan buat daftar prioritas supaya otak bisa fokus tanpa terganggu oleh hal lain.
Kamu juga bisa menggunakan teknik seperti time-blocking atau pomodoro, di mana waktu dibagi khusus untuk satu tugas, kemudian diikuti istirahat singkat sebelum pindah ke tugas berikutnya. Strategi ini membantu meminimalkan attention residue dan menjaga energi mental tetap stabil.
Jadi, itulah beberapa cara kamu dapat terhindar dari attention residue dengan fokus satu per satu, dan jeda yang tepat, kamu bisa meningkatkan produktivitas, mengurangi stres, dan tetap menjaga kualitas pekerjaan serta kualitas hidup sehari-hari.
Baca Juga:Ghosting Digital vs Ghosting Nyata: Mana yang Lebih Menyakitkan?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




