Suara Online, Semarang – Banjir yang melanda Kabupaten Pati pada Senin (12/01/2026) berdampak serius terhadap sektor pertanian.
Puluhan lahan sawah di sejumlah kecamatan terendam air dengan ketinggian bervariasi, menyebabkan aktivitas petani lumpuh dan meningkatkan risiko gagal panen.
Berdasarkan informasi yang dikutip dari Times Indonesia, banjir merendam sedikitnya 12 kecamatan dan 48 desa di wilayah Pati.
Luapan air dengan arus cukup deras tidak hanya menggenangi permukiman warga, tetapi juga lahan pertanian yang menjadi sumber utama mata pencaharian masyarakat setempat.
Sejumlah petani mengaku tidak dapat melakukan aktivitas tanam maupun perawatan tanaman karena sawah mereka masih tergenang.
Tanaman padi yang baru ditanam terancam membusuk akibat terendam terlalu lama, sementara tanaman yang sudah memasuki masa pertumbuhan berisiko rusak dan mati.
Selain merusak lahan pertanian, banjir juga membawa material lumpur dan sampah ke area persawahan.
Kondisi tersebut dikhawatirkan akan menurunkan kualitas tanah dan berdampak pada hasil panen ke depan. Petani pun terpaksa menunda aktivitas bertani hingga air benar-benar surut.
Tak hanya sektor pertanian, banjir juga mengganggu akses jalan utama di beberapa wilayah, sehingga memperlambat distribusi hasil pertanian dan memicu kemacetan.
Beberapa titik dilaporkan mengalami longsor akibat kuatnya arus air, memperparah kondisi infrastruktur di kawasan terdampak.
Pemerintah Kabupaten Pati saat ini memprioritaskan upaya evakuasi warga di daerah rawan banjir serta melakukan pemantauan intensif di wilayah pertanian.
Langkah tersebut dilakukan guna mencegah adanya korban jiwa sekaligus menunggu kondisi kembali normal.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada data pasti terkait total kerugian sektor pertanian. Namun, banjir kali ini diperkirakan menimbulkan dampak ekonomi yang cukup besar bagi para petani, terutama jika genangan air tidak segera surut dalam waktu dekat.
Baca Juga : Pati Berduka, Banjir Rendam 12 Kecamatan dan 48 Desa, Akses Jalan Lumpuh




