Suara Online – Belajar mengatakan “tidak” sering kali menjadi hal yang sulit bagi banyak orang. Bukan karena tidak tahu batas kemampuan, tetapi karena takut mengecewakan, takut dianggap egois, atau khawatir merusak hubungan.
Padahal, terus memaksakan diri demi menyenangkan orang lain justru perlahan mengorbankan diri sendiri.
Rasa bersalah saat menolak permintaan orang lain biasanya muncul karena kita terbiasa menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan pribadi.
Kita lupa bahwa waktu, energi, dan emosi juga memiliki batas. Ketika batas itu dilanggar terus-menerus, kelelahan mental pun tak terhindarkan.
Mengatakan “tidak” bukan berarti kamu orang yang buruk atau tidak peduli. Sebaliknya, itu adalah bentuk kejujuran terhadap diri sendiri dan orang lain.
Dengan menolak secara jujur, kamu mencegah ekspektasi yang tidak realistis dan hubungan yang dibangun di atas keterpaksaan.
Cara menyampaikan penolakan juga penting. Kamu tidak perlu memberi penjelasan panjang atau pembelaan berlebihan.
Kalimat sederhana, sopan, dan tegas sudah cukup. Semakin banyak alasan yang kamu berikan, semakin besar peluang orang lain untuk menekan atau memanipulasi keputusanmu.
Belajar mengatakan “tidak” tanpa rasa bersalah adalah proses. Awalnya mungkin terasa canggung dan tidak nyaman, tetapi seiring waktu kamu akan menyadari bahwa dunia tidak runtuh hanya karena kamu menolak. Orang yang menghargaimu akan memahami batasan tersebut.
Jadi, kemampuan mengatakan “tidak” adalah bentuk self-respect dan kedewasaan emosional.
Kamu berhak menentukan prioritas hidupmu sendiri tanpa harus merasa bersalah. Ketika kamu mulai menghargai diri sendiri, orang lain pun akan belajar menghargaimu.
Baca Juga : Berhenti Memberi Penjelasan kepada Mereka yang Tidak Mau Memahami demi Kesehatan Mental




