Suaraonline.com – Banyak orang percaya bahwa perasaan seseorang sering kali lebih jujur terbaca dari bahasa tubuh dibandingkan ucapan. Di antara berbagai isyarat nonverbal, mata kerap disebut sebagai bagian yang paling sulit berbohong.
Dalam kehidupan sehari-hari, tatapan mata sering menjadi sinyal awal yang menunjukkan rasa suka, takut, atau bahkan ketidaktertarikan, jauh sebelum semuanya diungkapkan lewat kata-kata.
Mata Dapat Berbicara?
Secara psikologis, mata memiliki peran besar dalam menyampaikan emosi. Saat seseorang merasa tertarik atau menyukai orang lain, respons tubuh bekerja secara alami. Salah satu tandanya adalah pupil mata yang melebar.
Kondisi ini dapat terjadi tanpa disadari dan sering disertai tatapan yang terus-menerus mencari objek atau subjek yang sama. Mata seolah memiliki “kecenderungan” untuk kembali menatap orang yang membuatnya nyaman atau tertarik.
Kecenderungan menatap orang atau objek yang disukai dalam biologis berasal dari otak yang mengaktifkan sistem dopamin dan reward, yang sehingga saat melakukannya hati akan terasa senang dan nyaman.
Selanjutnya, rasa takut juga tergambar jelas dari mata. Tatapan yang terlihat gelisah, bergerak cepat, sering berkedip, atau mata yang tampak kurang fokus bisa menjadi sinyal adanya rasa tidak aman.
Dan dalam situasi tertentu, mata yang kurang waspada atau justru terlalu reaktif mencerminkan kondisi batin yang sedang tertekan atau tidak tenang.
Sementara itu, ketidaktertarikan biasanya tampak dari gerak mata yang minim respons. Tatapan hanya sekilas, tanpa fokus, cenderung datar, kaku, dan tidak disertai ekspresi emosional.
Mata tidak berusaha mencari atau mempertahankan kontak, seolah tidak ada dorongan untuk terhubung lebih jauh. Bahasa mata seperti ini sering muncul ketika seseorang tidak memiliki ketertarikan emosional terhadap lawan bicaranya.
Meski demikian, membaca perasaan lewat mata tetap perlu kehati-hatian. Mata memang bisa memberi sinyal awal, tetapi konteks, situasi, dan sikap secara keseluruhan tetap penting untuk dipahami.
Mata bisa berbicara, namun maknanya akan lebih jelas jika dibaca bersama bahasa tubuh dan perilaku secara utuh.
Baca Juga: 7 Cara Menjaga Kesehatan Mata
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




