Suara Online – Ada fase dalam hidup ketika kita lelah terus-menerus menjelaskan diri sendiri kepada orang lain. Bukan karena kita tidak mampu menjelaskan, tetapi karena kita sadar bahwa tidak semua orang benar-benar ingin memahami.
Sebagian hanya ingin membenarkan sudut pandangnya sendiri, apa pun penjelasan yang kita berikan. Terus memberi penjelasan kepada orang yang tidak mau memahami hanya akan menguras energi emosional.
Kamu bisa berbicara dengan tenang, jujur, dan logis, tetapi jika lawan bicaramu sudah menutup pikiran, semua itu terasa sia-sia. Pada titik ini, berhenti menjelaskan bukan berarti kalah, melainkan bentuk perlindungan diri.
Banyak orang merasa bersalah saat memilih diam. Mereka takut dianggap tidak sopan, tidak peduli, atau egois.
Padahal, menjaga batasan adalah tanda kedewasaan emosional. Kamu tidak berkewajiban meyakinkan semua orang tentang pilihan hidup, perasaan, atau keputusanmu.
Belajar melepaskan kebutuhan untuk selalu dipahami adalah proses penting dalam pertumbuhan diri. Ketika kamu berhenti mencari validasi dari orang yang salah, kamu memberi ruang bagi ketenangan batin.
Fokusmu tidak lagi habis untuk membela diri, tetapi dialihkan pada hal-hal yang benar-benar penting.
Bukan berarti kamu menutup diri dari kritik atau masukan. Kritik yang sehat datang dari orang yang mau mendengar dan berdiskusi, bukan dari mereka yang hanya ingin menghakimi.
Membedakan keduanya akan membantumu lebih bijak dalam memilih kapan perlu menjelaskan dan kapan cukup diam.
Pada akhirnya, berhenti memberi penjelasan kepada mereka yang tidak mau memahami adalah bentuk self-respect.
Kamu memilih menjaga energi, ketenangan, dan harga diri. Tidak semua orang perlu tahu ceritamu, dan tidak semua orang pantas mendapat penjelasan darimu.
Baca Juga : Relasi yang Bertumbuh Seiring Perkembangan Diri dan Kedewasaan Emosional




