Suaraonline.com — Banyak orang tidak sadar bahwa rasa lelah dalam hubungan sering kali bukan datang dari cinta itu sendiri, melainkan dari ekspektasi yang terlalu tinggi.
Ketika cinta dibayangkan harus selalu manis, penuh perhatian, dan sesuai skenario di kepala, kekecewaan menjadi hal yang sulit dihindari. Inilah yang kerap membuat seseorang terjebak dalam pola hopeless romantic tanpa disadari.
Cara Mengontrol Ekspektasi Cinta
Langkah awal untuk mengontrol ekspektasi cinta adalah menyadari bahwa cinta di dunia nyata tidak berjalan seperti cerita film atau novel.
Hubungan yang sehat justru diisi oleh proses, perbedaan, dan ketidaksempurnaan. Dengan menerima bahwa konflik dan jarak emosional adalah bagian normal dari relasi, seseorang tidak lagi menuntut cinta agar selalu ideal.
Selanjutnya, penting untuk membedakan antara harapan dan kenyataan. Harapan boleh ada, tetapi tidak boleh berdiri di atas asumsi. Banyak hopeless romantic terjebak karena lebih percaya pada kemungkinan daripada fakta.
Perhatian kecil, sikap ramah, atau kedekatan sementara sering disalahartikan sebagai bukti cinta, padahal belum tentu demikian.
Mengontrol ekspektasi juga berarti tidak menjadikan pasangan atau calon pasangan sebagai pusat kebahagiaan. Ketika hidup hanya berputar pada cinta, sedikit saja perubahan sikap bisa terasa menyakitkan.
Menyeimbangkan cinta dengan kehidupan pribadi, tujuan hidup, dan relasi sosial membantu emosi tetap stabil.
Selain itu, komunikasi yang jujur dengan diri sendiri sangat penting. Bertanya pada diri sendiri apakah perasaan yang muncul didasari realitas atau hanya imajinasi dapat mencegah kekecewaan sejak awal. Kesadaran ini membantu seseorang tetap berpijak pada situasi yang nyata.
Terakhir, belajar mencintai diri sendiri menjadi kunci utama. Saat seseorang merasa cukup dengan dirinya, ia tidak lagi menuntut cinta untuk mengisi kekosongan batin.
Dengan demikian, ekspektasi terhadap cinta menjadi lebih realistis, dan jebakan hopeless romantic pun bisa dihindari.
Mengontrol ekspektasi bukan berarti mematikan harapan, melainkan menempatkan cinta secara sehat agar tidak berubah menjadi sumber luka emosional.
Baca Juga: Ghosting Digital vs Ghosting Nyata: Mana yang Lebih Menyakitkan?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah




