Suaraonline.com – Kondisi validation seeking behavior dapat terjadi lantaran kamu terlalu menyukai pujian. Kamu akan menganggap dirimu berarti jika orang lain mengatakan itu.
Kondisi ini makin diperparah dengan adanya sosial media. Orang-orang akan sangat mudah kehausan validasi seperti like, komen dan views. Seolah kamu “berharga” hanya jika like, komen dan views membeludak. Tentu keadaan ini sangat tidak baik karena akan berdampak besar pada kelelahan emosional.
Cara Mengurangi Validation Seeking Behavior
Validation seeking behavior adalah kecenderungan mencari persetujuan atau pengakuan secara berlebihan agar merasa aman dan dihargai.
Kamu mungkin sering meminta pendapat orang lain untuk keputusan kecil, merasa cemas jika tidak segera mendapat balasan pesan, atau kecewa berlebihan ketika unggahan di media sosial tidak mendapat respons seperti yang diharapkan.
Perilaku ini sering berakar dari pengalaman masa lalu. Kurangnya apresiasi, kritik berlebihan, atau kasih sayang yang terasa bersyarat dapat membentuk keyakinan bahwa nilai diri harus dibuktikan melalui penerimaan orang lain. Tanpa disadari, standar kebahagiaan pun bergeser: merasa baik hanya jika dipuji.
Dampaknya tidak sederhana. Ketergantungan pada validasi eksternal membuat emosi mudah naik turun. Saat dipuji, semangat meningkat drastis. Namun ketika dikritik atau diabaikan, rasa tidak percaya diri langsung muncul. Pola ini dapat memicu overthinking, kecemasan sosial, bahkan kelelahan mental karena terus berusaha tampil sempurna.
Mengurangi validation seeking behavior dimulai dari membangun validasi internal. Alih-alih langsung bertanya pada orang lain, latih diri untuk mengevaluasi keputusan sendiri. Tanyakan, apakah pilihan ini sudah sesuai nilai dan tujuan pribadi? Proses ini membantu memperkuat kepercayaan diri tanpa harus selalu bergantung pada persetujuan eksternal.
Selain itu, batasi kebiasaan membandingkan diri di media sosial. Ingat bahwa tidak semua yang terlihat di layar mencerminkan realitas sepenuhnya. Mengurangi paparan konten yang memicu perbandingan dapat membantu menstabilkan emosi.
Belajar menerima kritik secara proporsional juga penting. Kritik tidak selalu berarti penolakan terhadap diri secara keseluruhan. Dengan memperkuat dialog positif dalam diri, kebutuhan akan pengakuan perlahan bisa berkurang.
Pada akhirnya, rasa berharga yang paling stabil adalah yang tumbuh dari dalam, bukan yang sepenuhnya bergantung pada tepuk tangan orang lain.
Baca Juga: Tanda Inner Child Kamu Belum Sembuh
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




