Suaraonline.com – Patriarki sering dianggap menguntungkan anak laki-laki. Namun di balik posisi istimewa yang tampak, sistem ini justru membentuk pola pikir yang menjebak mereka dalam kebinasaan.
Sejak kecil, banyak anak laki-laki dibesarkan dengan ekspektasi tertentu yang tanpa disadari mempengaruhi cara mereka memandang diri sendiri dan orang lain.
Dampak Patriarki Pada Pola Pikir Anak Laki-laki
Dalam budaya patriarki, anak laki-laki kerap ditanamkan keyakinan bahwa mereka harus selalu kuat, tidak boleh menangis, dan tidak pantas menunjukkan emosi.
Perasaan sedih, takut, atau lelah sering dilabeli sebagai perasaan yang hanya diperbolehkan untuk perempuan, dan tidak boleh ada pada laki-laki. Hal semacam ini dapat membuat anak laki-laki tumbuh dengan kebiasaan memendam emosi dan kesulitan mengenali perasaan sendiri.
Dampak buruk patriarki selanjutnya yaitu terbentuknya pola pikir superioritas. Anak laki-laki terbiasa dilayani dalam urusan rumah tangga, sehingga tanpa disadari menganggap pekerjaan domestik bukan tanggung jawabnya.
Tidak jarang, banyak laki-laki yang bahkan tidak bisa melakukan pekerjaan basic hidup seperti memasak, mencuci baju dan mencuci piring. Lebih jauh, saat anak laki-laki dewasa dan menikah, mereka tidak akan bersedia saling membantu mengerjakan urusan rumah tangga karena berpikir hal itu kewajiban perempuan dan akan memalukan jika mereka melakukannya.
Selain itu, pola ini dapat membuat mereka kurang empati terhadap beban orang lain dan kesulitan membangun hubungan yang setara, baik dalam keluarga maupun relasi sosial.
Pola pikir patriaki membiasakan tekanan anak laki-laki untuk selalu menjadi “kepala”, “penanggung jawab”, dan “tidak boleh gagal” juga menjadi beban tersendiri. Anak laki-laki diajarkan bahwa nilai dirinya terletak pada kemampuan memimpin dan mengontrol.
Ketika tidak mampu memenuhi standar tersebut, mereka rentan merasa tidak cukup, marah pada diri sendiri, bahkan melampiaskan frustasi dengan cara yang tidak sehat.
Jadi, itulah beberapa dampak patriarki pada pola pikir anak laki-laki yang jika tidak disadari, pola pikir ini akan terus terbawa hingga dewasa dan diwariskan kembali.
Membebaskan anak laki-laki dari patriarki bukan berarti melemahkan mereka, melainkan memberi ruang untuk tumbuh sebagai manusia yang utuh, emosionalnya sehat, dan mampu menjalin relasi yang adil.
Baca Juga: Dampak Patriarki pada Pola Pikir Anak Perempuan
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




