Suaraonline.com — Budaya patriaki seringkali dianggap normal dan tidak bermasalah. Dalam banyak keluarga, pembagian peran di rumah masih kerap dipengaruhi oleh budaya patriarki yang diwariskan turun-temurun.
Tanpa disadari, pola asuh semacam ini bukan hanya membentuk kebiasaan, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis yang cukup dalam, khususnya bagi anak perempuan dalam memandang dirinya sendiri.
Dampak Patriarki pada Pola Pikir Anak Perempuan
Dampak patriarki yang paling terasa pada pola pikir anak perempuan yaitu perasaan rendah diri terhadap pria. Sejak dini, mereka dibiasakan untuk merasa harus, wajib, dan bertanggung jawab melayani saudara laki-lakinya.
Anak perempuan sering diajarkan untuk merawat, menjaga, dan mengalah, sementara kebutuhan emosionalnya sendiri jarang diperhatikan. Pola ini membuat mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya berada satu tingkat di bawah laki-laki dalam keluarga.
Kedua, dampak patriarki juga dapat memicu kebencian anak perempuan pada laki-laki. Anak perempuan yang selalu merasa terbebani dengan keberadaan laki-laki akan kesulitan menerima laki-laki dalam hidup mereka.
Perasaan ini tidak muncul karena kurangnya kasih sayang, melainkan akibat ketidakadilan yang terus-menerus dirasakan. Akibatnya, hubungan antaranggota keluarga menjadi kurang harmonis dan penuh jarak emosional.
Lebih jauh lagi, dampak paling berbahaya yaitu anak perempuan berisiko membawa nilai patriarki tersebut ke dalam keluarganya kelak.
Tanpa disadari, pola yang dulu melukai dirinya justru di reproduksi kembali, baik kepada anak perempuan maupun laki-laki. Inilah dampak patriarki yang paling berbahaya karena membuat ketimpangan terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Jadi, itulah beberapa dampak patriarki pada pola pikir anak perempuan, yang sebaiknya kita hindari sebagai langkah awal untuk membangun keluarga yang lebih adil dan sehat. Karena rumah seharusnya menjadi ruang aman bagi semua anak, tanpa terkecuali.
Baca Juga: Toxic Masculinity: Laki-laki Dituntut Harus Selalu Kuat dan Tidak Boleh Menangis?
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




