Suaraonline.com – Doomscrolling addiction merupakan fenomena kecenderungan terus-menerus mengonsumsi berita negatif atau konten penuh kecemasan tanpa henti.
Terlebih lagi, kebiasaan scrolling tanpa henti di media sosial kini menjadi bagian dari rutinitas banyak orang. Bangun tidur cek ponsel, sebelum tidur pun layar masih menyala.
Doomscrolling Addiction yang Berbahaya Bagi Kesehatan Otak
Doomscrolling addiction bukan sekadar kebiasaan iseng. Otak manusia secara alami tertarik pada informasi yang dianggap mengancam. Konten tentang konflik, krisis, atau kabar buruk memicu respons waspada. Ketika dilakukan berulang, otak terus berada dalam mode siaga, seolah-olah sedang menghadapi bahaya nyata.
Paparan informasi negatif secara terus-menerus dapat meningkatkan hormon stres seperti kortisol. Dalam jangka panjang, kondisi ini memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi, serta kestabilan emosi. Kamu mungkin merasa lelah tanpa alasan jelas, sulit fokus, atau lebih mudah tersinggung setelah terlalu lama menatap layar.
Fenomena ini juga berkaitan dengan overthinking dan kecemasan sosial. Algoritma media sosial cenderung menampilkan konten serupa dengan yang sering ditonton. Artinya, semakin sering Kamu mengonsumsi berita negatif, semakin banyak konten serupa yang muncul. Siklus ini memperkuat kecemasan dan membuat otak terbiasa dengan rangsangan stres.
Doomscrolling addiction juga berdampak pada produktivitas. Waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat atau menyelesaikan tugas habis untuk scrolling tanpa tujuan. Tanpa disadari, kebiasaan ini menciptakan kelelahan mental yang membuat motivasi menurun.
Mengurangi doomscrolling bukan berarti menghindari informasi sepenuhnya, melainkan membatasi konsumsi secara sadar. Menentukan waktu khusus untuk mengecek berita, mematikan notifikasi yang tidak penting, serta memberi jeda dari layar sebelum tidur dapat membantu menenangkan sistem saraf.
Karena otak membutuhkan ruang untuk pulih. Jika tidak dikendalikan, kebiasaan ini bukan hanya menguras waktu, tetapi juga perlahan mengganggu kesehatan mental dan keseimbangan emosional kamu.
Baca Juga: Tanda Inner Child Kamu Belum Sembuh
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




