Suara Online – Banyak orang terbiasa memendam emosi dengan alasan ingin terlihat kuat atau tidak ingin merepotkan orang lain.
Marah, sedih, kecewa, atau lelah sering kali disimpan rapat-rapat, seolah perasaan tersebut akan hilang dengan sendirinya.
Padahal, emosi yang tidak diungkap justru bisa menjadi beban yang menguras energi hidup.
Emosi yang dipendam tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berpindah tempat, dari kesadaran menjadi tekanan dalam tubuh dan pikiran.
Akibatnya, seseorang bisa merasa mudah lelah, kehilangan semangat, sulit fokus, bahkan mengalami gangguan tidur tanpa tahu penyebab pastinya.
Dalam jangka panjang, memendam emosi juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Perasaan yang terus ditekan dapat berubah menjadi kecemasan, rasa bersalah berlebihan, atau ledakan emosi di waktu yang tidak tepat.
Inilah mengapa banyak orang merasa “capek terus” meskipun secara fisik tidak melakukan aktivitas berat.
Mengelola emosi bukan berarti meluapkan semuanya tanpa kendali. Yang dibutuhkan adalah ruang aman untuk mengakui perasaan, baik melalui menulis, berbicara dengan orang tepercaya, atau sekadar mengizinkan diri untuk merasakan emosi tersebut tanpa menghakimi.
Belajar jujur pada perasaan sendiri adalah langkah awal untuk menjaga energi hidup tetap seimbang.
Ketika emosi diberi tempat yang sehat, tubuh dan pikiran tidak perlu bekerja keras untuk menahannya. Energi pun bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih bermakna.
Pada akhirnya, keberanian untuk menghadapi emosi adalah bentuk kepedulian pada diri sendiri. Dengan tidak lagi memendam perasaan, kita memberi kesempatan bagi diri untuk hidup lebih ringan, lebih jujur, dan lebih utuh.
Baca Juga : Belajar Berhenti Menyalahkan Diri atas Hal-Hal di Luar Kendali




