Suaraonline.com – Existential crisis merupakan kondisi psikologis ketika seseorang mempertanyakan makna hidup, tujuan, dan arah keberadaannya.
Pernahkan kamu mengalami fase dalam hidup ketika semuanya terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi di dalam terasa kosong. Pekerjaan berjalan, hubungan ada, aktivitas penuh, namun tetap muncul pertanyaan yang mengganggu, “Untuk apa semua ini?”
Existential Crisis Membuat Hidup Terasa Hampa
Existential crisis bukan sekadar sedih biasa. Ini lebih dalam dari rasa lelah atau kecewa sementara. Kamu bisa tetap tertawa, tetap hadir di kantor, tetap membalas chat, tetapi di dalam ada perasaan hampa yang sulit dijelaskan. Aktivitas yang dulu terasa penting mendadak terasa datar. Hobi yang terasa menyenangkan mendadak hilang rasanya. Target yang dulu dikejar mati-matian terasa tidak lagi memuaskan.
Kondisi ini sering muncul saat momen transisi hidup. Lulus kuliah, pindah kerja, kehilangan orang terdekat, memasuki usia tertentu, atau bahkan setelah mencapai target besar. Ironisnya, existential crisis juga bisa datang setelah keberhasilan. Ketika tujuan tercapai, muncul ruang kosong yang sebelumnya tertutup oleh ambisi. Otak mulai bertanya, “Lalu setelah ini apa?”
Di era modern, tekanan sosial juga memperparah kondisi ini. Media sosial penuh dengan pencapaian orang lain, standar kesuksesan yang terus naik, dan narasi bahwa hidup harus selalu produktif serta bermakna besar. Tanpa sadar, kamu mulai membandingkan perjalanan hidupmu dengan orang lain. Dari situ muncul keraguan: apakah hidupku cukup berarti?
Gejala existential crisis bisa berupa overthinking tentang kematian, waktu yang terus berjalan, atau ketakutan menjadi “biasa saja.” Ada juga yang mengalami kehilangan motivasi, merasa terlepas dari diri sendiri, atau merasa seperti menjalani hidup dengan mode autopilot. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi kecemasan berkepanjangan atau depresi ringan.
Namun penting untuk dipahami, existential crisis bukan tanda kelemahan. Justru, ini sering menjadi sinyal bahwa kamu sedang bertumbuh. Pertanyaan tentang makna hidup muncul karena kesadaranmu meningkat. Kamu tidak lagi puas dengan sekadar menjalani rutinitas; kamu ingin sesuatu yang lebih dalam dan autentik.
Menghadapinya tidak berarti harus menemukan jawaban besar secara instan. Mulailah dari hal kecil yang memberi rasa hadir. Kurangi distraksi berlebihan, beri ruang untuk refleksi, dan tulis hal-hal yang sebenarnya penting bagimu. Alih-alih mencari makna hidup secara abstrak, fokus pada makna hari ini. Apa yang bisa kamu lakukan yang membuatmu merasa sedikit lebih hidup?
Berbicara dengan orang terpercaya atau profesional juga membantu memperjelas pikiran yang terasa kabur. Kadang yang kamu butuhkan bukan jawaban final, tetapi perspektif baru. Aktivitas sederhana seperti berjalan tanpa gawai, membaca, atau berkontribusi dalam hal kecil pun bisa membantu mengembalikan rasa terhubung dengan diri sendiri.
Existential crisis memang terasa menakutkan karena menyentuh inti keberadaan. Namun di balik rasa hampa itu, ada peluang untuk membangun hidup yang lebih sadar dan sesuai nilai pribadi.
Ketika kamu berani menghadapi pertanyaan besar, pelan-pelan kamu akan menemukan bahwa makna tidak selalu harus spektakuler. Kadang, makna hadir dalam hal sederhana yang selama ini terlewatkan.
Baca Juga: Mengenal Self Sabotage Behavior yang Mempengaruhi Pola Bawah Sadar
Editor: Annisa Adelina Sumadillah.




