Suara Online
  • Beranda
  • Berita
  • Bisnis
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Teknologi
Subscribe
Suara OnlineSuara Online
Aa
Search
  • Pages
    • Blog Index
    • Contact Us
    • Search Page
    • 404 Page
  • Categories
  • Personalized
    • My Saves
    • My Feed
    • My Interests
    • History
Follow US
Existential Crisis: Ketika Hidup Terasa Hampa

Beranda – Existential Crisis – Existential Crisis: Ketika Hidup Terasa Hampa

ArtikelGaya HidupKesehatan

Existential Crisis: Ketika Hidup Terasa Hampa

Annisa Adelina Sumadillah
Annisa Adelina Sumadillah
Share
SHARE

Suaraonline.com – Existential crisis merupakan kondisi psikologis ketika seseorang mempertanyakan makna hidup, tujuan, dan arah keberadaannya.

Pernahkan kamu mengalami fase dalam hidup ketika semuanya terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi di dalam terasa kosong. Pekerjaan berjalan, hubungan ada, aktivitas penuh, namun tetap muncul pertanyaan yang mengganggu, “Untuk apa semua ini?” 

Existential Crisis Membuat Hidup Terasa Hampa

Existential crisis bukan sekadar sedih biasa. Ini lebih dalam dari rasa lelah atau kecewa sementara. Kamu bisa tetap tertawa, tetap hadir di kantor, tetap membalas chat, tetapi di dalam ada perasaan hampa yang sulit dijelaskan. Aktivitas yang dulu terasa penting mendadak terasa datar. Hobi yang terasa menyenangkan mendadak hilang rasanya. Target yang dulu dikejar mati-matian terasa tidak lagi memuaskan.

Kondisi ini sering muncul saat momen transisi hidup. Lulus kuliah, pindah kerja, kehilangan orang terdekat, memasuki usia tertentu, atau bahkan setelah mencapai target besar. Ironisnya, existential crisis juga bisa datang setelah keberhasilan. Ketika tujuan tercapai, muncul ruang kosong yang sebelumnya tertutup oleh ambisi. Otak mulai bertanya, “Lalu setelah ini apa?”

Di era modern, tekanan sosial juga memperparah kondisi ini. Media sosial penuh dengan pencapaian orang lain, standar kesuksesan yang terus naik, dan narasi bahwa hidup harus selalu produktif serta bermakna besar. Tanpa sadar, kamu mulai membandingkan perjalanan hidupmu dengan orang lain. Dari situ muncul keraguan: apakah hidupku cukup berarti?

Gejala existential crisis bisa berupa overthinking tentang kematian, waktu yang terus berjalan, atau ketakutan menjadi “biasa saja.” Ada juga yang mengalami kehilangan motivasi, merasa terlepas dari diri sendiri, atau merasa seperti menjalani hidup dengan mode autopilot. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi kecemasan berkepanjangan atau depresi ringan.

Namun penting untuk dipahami, existential crisis bukan tanda kelemahan. Justru, ini sering menjadi sinyal bahwa kamu sedang bertumbuh. Pertanyaan tentang makna hidup muncul karena kesadaranmu meningkat. Kamu tidak lagi puas dengan sekadar menjalani rutinitas; kamu ingin sesuatu yang lebih dalam dan autentik.

Menghadapinya tidak berarti harus menemukan jawaban besar secara instan. Mulailah dari hal kecil yang memberi rasa hadir. Kurangi distraksi berlebihan, beri ruang untuk refleksi, dan tulis hal-hal yang sebenarnya penting bagimu. Alih-alih mencari makna hidup secara abstrak, fokus pada makna hari ini. Apa yang bisa kamu lakukan yang membuatmu merasa sedikit lebih hidup?

Berbicara dengan orang terpercaya atau profesional juga membantu memperjelas pikiran yang terasa kabur. Kadang yang kamu butuhkan bukan jawaban final, tetapi perspektif baru. Aktivitas sederhana seperti berjalan tanpa gawai, membaca, atau berkontribusi dalam hal kecil pun bisa membantu mengembalikan rasa terhubung dengan diri sendiri.

Existential crisis memang terasa menakutkan karena menyentuh inti keberadaan. Namun di balik rasa hampa itu, ada peluang untuk membangun hidup yang lebih sadar dan sesuai nilai pribadi. 

Ketika kamu berani menghadapi pertanyaan besar, pelan-pelan kamu akan menemukan bahwa makna tidak selalu harus spektakuler. Kadang, makna hadir dalam hal sederhana yang selama ini terlewatkan.

Baca Juga:  Mengenal Self Sabotage Behavior yang Mempengaruhi Pola Bawah Sadar

Editor: Annisa Adelina Sumadillah.

TAGGED: Existential Crisis, Existential Crisis Membuat Hidup Terasa Hampa
Share This Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified Blog

Seedbacklink

Rumah Anak Surga

Hotel Karantina Qur’an

Rental Motor Semarang

You Might Also Like

Revenge Bedtime Procrastination: Balas Dendam yang Diam-Diam Menguras Energi

3 Min Read
Inferiority Complex di Lingkungan Kerja
ArtikelGaya Hidup

Inferiority Complex di Lingkungan Kerja

3 Min Read
Perfectionism Syndrome yang Diam-Diam Melelahkan
ArtikelGaya HidupKesehatan

Perfectionism Syndrome yang Diam-Diam Melelahkan

3 Min Read
https://www.alodokter.com/alam-bawah-sadar-inilah-perannya-dalam-kehidupan-sehari-hari
ArtikelGaya HidupKesehatan

Mengenal Self Sabotage Behavior yang Mempengaruhi Pola Bawah Sadar

3 Min Read
Suara Online

Suaraonline.com : The voice of netizen

  • Tentang Kami
  • Sitemap
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Privacy Police
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?