Suaraonline.com – Menurut data badan pusat statistik di Indonesia, sekitar 14,37 persen pekerja yang ada di Indonesia masuk dalam kategori female breadwinner. Itu artinya, perempuan bekerja dan memiliki pendapatan paling dominan yang menjadi pencari nafkah utama dalam rumah tangga.
Fenomena female breadwinner ini nyatanya tidak hanya terjadi kepada perempuan yang telah bercerai dengan suaminya atau bahkan suaminya telah meninggal dunia.
Namun, fenomena ini juga di dominasi perempuan yang sudah berumah tangga dan suaminya masih ada namun justru menjadi peringkat tertinggi penyumbang data fenomena ini.
Definisi Female Breadwinner
Female breadwinner merupakan perempuan yang bekerja dan memiliki pendapatan terbesar di dalam keluarga. Fenomena ini dapat muncul karena ekonomi yang semakin tidak stabil sehingga memaksa keadaan perempuan untuk makin mandiri setidaknya dapat membiayai kebutuhan hidupnya sendiri.
Data ini sejalan dengan penelitian Drago dkk. (2004). Riset tersebut menunjukkan bahwa banyak perempuan terpaksa atau memilih menjadi pencari nafkah utama karena suami mereka memiliki pekerjaan dengan pendapatan rendah atau tidak stabil.
Faktor Penyebab Terjadinya Female Breadwinner
Faktor penyebab terjadinya female breadwinner ada beragam. Berikut ini adalah beberapa faktor penyebab fenomena ini:
1. Biaya Hidup Terus Meningkat
Female breadwinner tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor yang membuat perempuan terpaksa harus menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga. Salah satu faktornya yaitu biaya hidup terus meningkat.
Saat ini, kebutuhan hidup terutama ketika berumah tangga menjadi sangat banyak dan kadang kalanya ada di titik ekonomi semakin tidak stabil padahal biaya hidup terus meningkat. Inilah yang menyebabkan perempuan turut serta menopang ekonomi keluarga bahkan menjadi pencari nafkah yang utama karena gajinya lebih tinggi.
2. Meningkatnya Partisipasi Perempuan
Saat ini, partisipasi keikutsertaan perempuan dalam berbagai sektor terbuka sangat lebar. Oleh karena itu, banyak perempuan yang terjun langsung untuk bekerja di segala bidang bahkan menduduki posisi atau jabatan tinggi.
3. Kondisi Pasangan
Tak jarang, seorang perempuan terpaksa harus menjadi breadwinner karena kondisi pasangan. Hal ini beragam seperti pasangan yang tiba-tiba terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) atau juga masalah kesehatan yang menyebabkan pasangan tidak dapat bekerja yang dimana akan menyebabkan pendapatan tersebut menjadi tidak ada.
Tak jarang, akhirnya perempuan ikut turun tangan dalam membantu keadaan ekonomi suami demi mencukupi kebutuhan rumah tangga.
4. Pandangan Terhadap Kesetaraan Gender
Saat ini banyak suami yang tidak membatasi istrinya untuk tetap bekerja dan berkarya. Banyak orang yang semakin terbuka mengenai kesetaraan gender sehingga perempuan tidak harus selalu bekerja di dapur karena pekerjaan rumah tangga dapat dibagi.
5. Gaya Hidup dan Kemandirian Perempuan
Tak jarang, banyak perempuan yang tetap ingin hidup mandiri setelah menikah. Mereka ingin tetap menghasilkan uang untuk dirinya sendiri demi memenuhi gaya hidup atau kebutuhan lain dan tidak ingin membebani suami.
Ini merupakan salah satu nilai yang dimiliki perempuan. Itu artinya, perempuan tetap dapat memberikan penghasilan untuk dirinya sendiri bahkan juga bisa membantu dalam menopang ekonomi keluarga.
Itulah tadi pembahasan mengenai definisi dan juga faktor penyebab terjadinya female breadwinner. Pada dasarnya fenomena ini bisa menjadi peluang bagi perempuan untuk tetap bisa berkarya dan melakukan hobi.
Namun perlu digaris bawahi disini adalah, pentingnya komunikasi kepada pasangan. Jika memang perempuan harus bekerja karena keadaan, maka laki-laki sebagai suami tetap yang menjadi penopang utama dalam mencari nafkah di keluarga.
Baca Juga: Copycat Suicide: Tindakan Bunuh Diri Karena Meniru Orang Lain dan 3 Cara Mengatasinya!
Penulis: Suci Wulandari




